Ma’ruf Kasim, PhD .  #Laut merupakan anugrah terbesar bagi umat manusia. Didalamnya begitu banyak sumberdaya yang tak ternilai harganya. Potensi sumberdaya kelautan Indonesia sangat tinggi dan bahkan bisa menutupi utang luar negeri Indonesia. Prakiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut Indonesia yang telah dihitung para pakar dan lembaga terkait dalam setahun mencapai 149,94 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.994 triliun. Sementara itu dari beberapa sumber mengatakan bahwa utang luar negeri Indonesia yang pada bulan juni 2008 utang luar negeri Indonesia masih 1,780 Milyar Dollar. Ini artinya bahwa hanya dengan optimalisasi potensi sumberdaya kelautan kita, Negara kita bisa terbebas dari utang luar negeri. Hal ini memang mungkin saja terjadi jika kita benar-benar mau menyadari akan kekuatan dan besarnya potensi sumberdaya yang kita miliki. Hal yang paling mungkin adalah dengan mengkalkulasi potensi sumberdaya terumbu karang indonesia yang sangat tinggi.

Potensi ini terus menyeruak dalam berbagai issu nasional dan internasioanl, dan bahkan pada kegiatan WOC di Manado disebutkan bahwa potensi terumbu karang bisa menjadi suatu kekuatan ekonomi baru bidang pariwisata yang dapat menghasilkan miliaran dollar AS pertahunnya.

Coral Indonesia

Namun saat ini tanpa kita sadari bahwa ternyata sebelum kita benar-benar mau mengoptimalkan nilai ekonomi dari sumberdaya terumbu karang, lambat laun kita telah mulai kehilangan sumberdaya laut sedikit demi sedikit dan pasti. Dari waktu-kewaktu terlihat trend penurunan kualitas dan kuantitas sumberdaya pesisir dan laut. Sumberdaya yang paling terdegradasi adalah terumbu karang dan hutan mangrove. Dari beberapa data terlihat penurunan penutupan karang hidup dibeberapa lokasi kawasan timur Indonesia dan bahkan di beberapa kawasan Konservasi seperti Takabonerate, Bunaken manado, Taman Naional Laut Wakatobi dan Raja ampat. Jika kita melihat lebih jauh mengenai kondisi sumberdaya yang paling mencuat saat ini adalah penurunan penutupan luasan karang hidup daerah terumbu karang. Ada beberapa hal yang menjadikan terumbu karang terdegradasi dengan serius antara lain karena ulah manusia dan tekanan alam itu sendiri. Dan kita tidak dapat memungkiri bahwa kerusakan karena ulah manusia adalah hal terburuk yang sampai saat ini terus terjadi. Saat perhatian masyarakat kota tengah terfokus pada hangatnya kasus KPK, Kejaksaan dan Kepolisian, sebagian masyarakat desa justru lebih memilih untuk mendapatkan sumber daya yang dapat menghidupi keluarga mereka.

Coral Uniq

Mereka seakan tidak perduli dan tidak mau perduli dengan diskusi hangat para komentator dan pengamat yang sudah kenyang dengan berbagai sumberdaya dikota. Sebagian masyarakt desa pesisir memanfaatkan sumberdaya yang dapat mereka peroleh walau hanya cukup untuk satu hari dan sebagian ada yang berupaya untuk mendapatkan sumberdaya dengan jumlah yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan keberlanjutan sumberdaya. Dalam hubungan yang tidak langsung, ternyata keberadaan masyarakat kota yang hidup berkecukupan mempunyai korelasi positif terhadap aktifitas masyarakat desa dalam mencari sumberdaya pesisir dan laut. Sebagian masyarakat desa berusaha untuk mendapatkan sumberdaya lebih untuk menutupi permintaan masyarakat kota dengan menggunakan alat tangkap yang dapat merusak lingkungan.

pengebomikan

Dalam kenyataannya, masih banyak nelayan yang menggunakan bom dan racun dalam mengeksplotasi sumberdaya ikan di terumbu karang. Mereka tidak segan-segan melemparkan bom mereka pada kumpulan ikan ditengah terumbu karang, hanya untuk mendapatkan hasil tangkapan lebih yag dapat dijual dipasar-pasar kota. Dari pengamatan langsung dilapangan dengan nelayan “kebetulan” yang melakukan aksi pengeboman, kami melihat bahwa efek bom benar-benar dahyat dan mematikan. Dengan berat bom ikan 200 – 400 gram kotor (termasuk berat botol) dapat menimbulkan kematian pada radius 5-8 meter. Kematian terbesar ada pada radius < 5 m, kematian sedang ada pada radius 5-10 meter dan kematian ringan pada radius diatas 10 m. Kematian berat artinya semua sumberdaya ikan dan non ikan serta terumbu karang benar-benar mati dan terumbu karang tidak dapat recovery. Kematian sedang adalah kematian beberapa sumberdaya ikan kecil dan sedang sementara 30 – 60 % terumbu karang dapat recovery setelah 3 – 4 minggu. Sementara kematian ringan adalah kematian beberapa jenis ikan kecil dan rusaknya terumbu karang sekitar 10 – 15 %. Ribuan ikan dalam radius < 5 meter benar-benar mati, mengapung dan beberapa tenggelam. Dan hanya sekitar 60 % ikan yang dapat diambil oleh nelayan yang melakukan aktivitas pengeboman. Paling banyak sekitar 80 % ikan yang dapat diambil oleh masyarakat dengan catatan bahwa kebetulan yang terkena bom adalah gerombolan ikan besar yang dapat dengan mudah ditemukan saat ikannya mati. Sementara ikan-ikan lain yang bukan merupakan sasaran pengeboman yang ikut mati karena ukurannya yang masih kecil juga akhirnya mati dengan sia-sia. Belum lagi ribuan juvenile (bakal ikan) ikut mati dan jutaan telur ikan akhirnya hancur oleh getaran yang diakibatkan oleh bom ikan yang sekali dilemparkan. Dalam sekali operasi penangkapan dengan menggunakan Bom, seorang nelayan dapat meledakkan 3–6 bom sehari tergantung pada ketepatan mereka menemukan sasaran gerombolan ikan. Dan sangat jarang dalam sekali lempar kebetulan menemukan sasaran gerombolan ikan. Dapat dibayangkan jika dalam sehari seorang nelayan meledakkan bom 3–6 kali maka jutaan bakal ikan, telur ikan dan bahkan ikan-ikan kecil mati sebelum benar-benar dimanfaatkan.

pengebomikan02

Belum lagi aktifitas penggunaan cyanida yang masih sangat marak dilakukan oleh beberapa nelayan. Kegiatan penangkapan dengan cyanide ini ternyata sama buruknya dengan aktivitas pengeboman walaupun efek rusaknya tidak seperti penggunaan bom. Bukan hanya itu, efek langsung yang juga sangat mematikan adalah matinya zooxanthella (organism karang yang microscopic) yang merupakan organisma satu-satunya penghasil terumbu (kapur karang) yang juga sekaligus menjadi rumah bagi karang dan ribuan ikan serta hewan lainnya. Dengan matinya karang akibat cyanide, maka akan memberikan efek negative pada pertumbuhan terumbu karang itu sendiri. Kita tidak akan dapat lagi melihat keaneka ragaman warna yang dibangun oleh jutaan zooxanthella karena semua karang akan berubah menjadi putih dari mati. Kematian demi kematian yang diakibatkan oleh nelayan pengguna bom dan cyanide sebenarnya juga karena ketidak perdulian kita terhadap sumberdaya yang ada. Kita tetap saja membeli ikan-ikan yang di bom atau ikan-ikan yang diracun oleh nelayan.

cyanidaikan

Tanpa kita sadari kalau kita secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam kematian jutaan ikan yang ada diwilayah pesisir dan laut. Kematian dan kerusakan memang terus terjadi dimuka bumi sebagimana dalam Al Quran pada surat Ar-Rum (30) : 41, yang antara lain berbunyi : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” Seharusnya diantara banyaknya issu politik yang menggema saat ini tidak menghilangkan kepedualian kita untuk terus menjaga sumberdaya yang dapat menjadi asset paling berharga bagi masyarakat Indonesia. Saat ini telah dan terus berlangsung Program Coremap yang telah masuk pada fase II yang secara nyata terus memberikan penguatan-penguatan ditingkat desa dalam upaya menjaga sumberdaya terumbu karang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab utama dari upaya perusakan terumbu karang adalah desakan ekonomi sebagian masyarakat pesisir yang untuk itu kita semua bertanggung jawab (bukan hanya program Coremap) untuk terus meneriakkan kata “PERANG” terhadap segala upaya perusakan terumbu karang. (© Ma’ruf Kasim, PhD)

Oleh : Ma’ruf Kasim, PhD

Kenalkan kah anda dengan ikan yang yang satu ini ?

Ikan ini bernama napoleon atau lebih dikenal dengan Napoleon Wrasse. Ikan Napoleon (Cheilunus undulatusadalah salah satu ikan karang besar yang hidup pada daerah tropis. Panjang ikan ini bisa mencapai 1.5 meter. Dan beberapa ikan bisa mencapai ukuran sampai 180 kg pada usia 50 tahun. Kehidupan hewan ini umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter.  Para penyelam biasanya menemukan ikan ini berenang sendiri pada daerah sekitar karang. Dan biasanya sangat jinak dengan para penyelam.  Ikan ini biasanya biasanya tidak terusik dengan aktivitas para penyelam.  Salah satu keunikan hewan ini adalah lingkar bola matanya yang dapat melihat arah sudut pandang sampai 180 derajad. Kebiasaan hidup sendiri pada kedalaman tertentu membuat hewan ini sangat dinantikan oleh para penyelam untuk melihat atau bahkan memotret hewan ini.  Biasanya ikan berenang sendiri mencari makan didaerah dekat karang, karena makanannya yang berupa beberapa jenis sea urchin, molusca dan crustacean memang banyak berada pada daerah sekitar karang. Ikan ini mempunyai pola reproduksi yang hermaphrodite.  Biasanya ikan ini lahir sebagai hewan jantan dan akan berubah menjadi betina saat menjelang dewasa.  Sehingga kadang ditemukan dominasi jantan pada satu populasi ikan kecil sampai ukuran sedang dan akan berubah menjadi dominasi populasi betina saat mendekati matang gonad. Ini memang fenomena unik dialam yang merupakan salah satu strategi sebagian besar hewan laut utntuk mempertahankan kehidupan populasi mereka.

 

Sampai saat ini sangat kurang penelitian yang mengungkap pola adaptasi yang bisa dikembangkan oleh ikan yang satu ini yang jelas bahwa sampai saat ini populasi hewan ini sangat kecil dan merupakan salah satu ikan yang sangat dilindungi.  Populasi ikan ini biasanya didapatkan pada daerah-daerah yang jauh dari kegiatan pengeboman karena dari beberapa pengalaman para penyelam,  mengatakan bahwa  ikan napoleon akan  sangat jarang ditemukan pada daerah dengan kondisi karang yang sudah rusak akibat pengeboman dan atau daerah yang banyak menggunakan potassium sianida.  Ini menggambarkan bahwa keberadaan ikan ini sangat tergantung pada ekosistem yang terjaga. 

 

Mahalnya perdagangan ikan ini merupakan salah satu penyebab populasi ikan ini sangat jauh berkurang dialam.  Warna daging yang putih lembut dengan rasa yang sangat lezat, membuat ikan ini semakin diburu.  Beberapa Negara yang dicatat sebagai  pengimpor ikan ini adalah Singapura, Cina, Hongkong dan Jepang. Juga pernah dicatat beberapa pesanan berasal dari  Canada, Amerika dan beberapa nagara di Eropa. Walau dilakukan dengan tidak resmi, sampai sekarang masih didapatkan beberapa kasus penyeludupan hewan ini keluar dari Indonesia.

Ikan ini merupakan salah satu ikan yang sangat dilindungi dan dilarang perdagangannya saat ini. Oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), ditetapkan ikan Napoleon sebagai salah satu ikan yang dilindungi di dunia karena ikan ini telah langka dan terancam populasinya dialam.  Pada COP 13 CITES di Bangkok, Thailand pada tanggal 2 – 14 Oktober 2004 negara-negara anggota CITES telah menyepakati untuk memasukan jenis ikan ini kedalam Appendiks II CITES dan selanjutnya dalam pemanfaatannya harus sesuai dengan ketentuan CITES, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi CITES sesuai Keputusan Presiden Nomor : 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade In Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora. Dimana pengaturannya di Indonesia dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan c.q. Dirjen PHKA selaku otoritas pengelola CITES. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka pemanfaatan Ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus) yang tidak dilindungi undang-undang dan termasuk dalam Appendiks II CITES dalam penatausahaannya diatur sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar, yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SumberDaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor : 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. 

Khusus untuk dibeberapa perairan Indonesia, kita dapat menemukan ikan ini hidup disekitar daerah sekiatar Irian (raja empat dan sekitarnya) , perairan Sulawesi tenggara (kabupaten Buton, Perairan Wakatobi dan sekitarnya) , Periaran Sulawesi Utara (Bunaken dan sekitarnya), Perairan Nusa Tenggara (Sikka dan sekitarnya), perairan Sulawesi selatan (Takabonerate dan sekitarnya), Perairan Maluku.

Namun demikian karena maraknya pengiriman secara illegal ikan ini ke Singapura, membuat ikan ini telah mulai langka dan sangat sulit untuk ditemukan.  Walaupun dicanangkan sebagai salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia, tidak menyusutkan niat beberapa pencari dan pedagang ikan untuk menjual ikan ini.  Bahkan dengan dilindunginya ikan ini membuat harganya semakin mahal dan semakin menantang mereka untuk menangkap dan menjualnya.

Sangat disayangkan jika keberadaan ikan ini akan musnah dari parairan Indonesia.  Sebagai salah satu hewan yang mempunyai bentuk yang cantik, anggun, gemulai dan bersahabat dialam, menjadikan ikan ini sangat dekat dengan beberapa penyelam.  Keberadaan ikan ini dibeberapa daerah penyelaman menjadikan  pengalaman tersendiri yang tak terlupakan bagi para penyelam. Bahkan dibeberapa Negara ada yang menawarkan paket berenang dengan hanya untuk menyaksikan keberadaan beberapa jenis ikan ini dialam.

Ini merupakan investasi alam yang sangat berharga untuk jangka panjang. Sebagian besar masyarakat kita tidak mengerti akan keberadaan hewan ini bahkan ironisnya dibeberapa tempat, ikan ini diburu untuk disantap menjadi makanan keseharian mereka.

Minimnya kesadaran akan beberapa jenis hewan yang semakin berkurang dialam menjadikan mereka seakan tidak perduli dengan hewan ini.

Untuk itu akan sangat diharapkan peran dari semua pihak untuk bersama-sama menjaga keberadaan hewan dan ikan-ikan yang dilindungi.

Kita sangat mengharapkan peran pemerintah untuk lebih tegas dalam mengawasi dan melarang perdagangan hewan ini, pertisipasi semua pihak untuk menjaga keberadaan ikan ini dialam.

Akan sangat indah bagi kita jika saat melakukan perjalanan kedaerah-daerah pantai dekat karang menyaksikan ikan ini berenang dengan gemulai dan indah atau suatu saat anda mempunyai kesempatan untuk snorkling atau diving didaerah sekitar karang menemukan ikan ini berenang bebas bersama anda karena sifat yang bersahabat dari ikan ini. 

Dengan tidak memburunya dialam dan membiarkannya tetap hidup dan berkembang biak dialam kita sudah berperan sangat besar dalam menjaga ikan ini. Kita tidak akan berharapa kalau ikan ini hanya tertempel didinding sebagai suatu gambar atau poster yang dengan catatan “Ikan ini Pernah ada diperaiarn Indonesia”.

 

Akan sangat mungkin untuk melakukan upaya restoking bagi beberapa hewan dan ikan seperti Napoleon dialam. Tentunya peluang untuk membuat tempat perkembangbiakan ikan ini pada suatu kawasan bahkan tempat tertentu merupakan salah satu jalan keluar yang mungkin dapat dilakukan. Tentunya dengan kepedualian dan perhatian dari berbagai pihak terutama pemerintah.

 

Sebagian foto diambil dari: divetrip.com, pbs.org., www. timsaxon.co.uk.

(Ma’ruf Kasim, PhD)

 

Sumberdaya pesisir dan laut menyimpan potensi yang sangat strategis dalam peningkatan pembangunan kawasan timur Indonesia.  Namun demikian, pemanfaatan sumberdaya tersebut belum menunjukkan adanya suatu keseriusan upaya yang optimal dan lestari. Banyaknya ekosistem yang berada didaerah pantai menggambarkan betapa tingginya daya dukung lingkungan pesisir dan laut  terhadap kehidupan masyarakat.  Peningkatan pertumbuhan masyarakat pesisir yang sangat signifikan mendorong upaya pemanfaatan sumberdaya pesisir begitu tinggi dan menyisakan degradasi yang mulai parah.

Beberapa kegiatan yang dapat merusak sumberdaya pesisir dan laut diantaranya :

Q         Kegiatan reklamasi pantai  dapat membunuh jutaan bibit ikan dan hewan laut ekonomis sebagai akibat penimbunan ekosistem lamun. Ekosistem lamun merupakan daerah pembesaran bagi ikan-ikan kecil dan hewan laut lainnya karena menyimpan berjuta makanan yang sangat sesuai untuk ikan-ikan kecil dan hewan ekonomis lainnya.

Q         Konversi Hutan mangrove sebagai lokasi pertambakan dan lokasi pemukiman mendorong degradasi hutam mangrove hingga ribuan  hektar di seluruh kawasan Timur Indonesia.

Q         Penggunaan Bom dan bahan beraruc seperti Cianida sampai tahun 2007 telah menyisakan kerusakan terumbu karang hingga mencapai 70 % dari total luasan terumbu karang Indonesia umunya dan Kawasan Timur Indonesia khususnya.

 

Sangat disadari bahwa pembangunan pasti akan menjadikan lingkungan sebagai tumbal yang harus dikorbankan, Namun demikian juga harus disadari bahwa perlu kearifan yang lebih bijaksana untuk memberikan kompensasi pada lingkungan sebagai hasil kerja pembangunan yang terus meningkat. 

Pertanyaannya, siapakan yang harus membayar kompensasi tersebut. Apakah masyarakat, Pemerintah, atau swasta.

Secara bijak dapat kita  katakan bahwa seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan swasta bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan, tinggal bagaimana keterlibatan semua pihak untuk saling dukung dalam memberikan sumbangsih bagi kompensasi tersebut.

 

Seberapa besar dan bagaimana wujud kompensasi tersebut , sangat tergantung pada kondisi rill yang terjadi termasuk kondisi topografi daerah masing-masing.  Spesifikasi tersebut dipengaruhi  oleh jenis ekosistem yang terdegradasi dan seberapa besar tekanan terhadap sumberdaya yang ada.

 

Adanya perusakan lingkungan untuk reklamasi pantai yang menutupi ratusan hektar habitat lamun dan atau degradasi hutan mangrove, diharapkan adanya upaya transplantasi lamun pada beberapa lokasi yang menurut kajian ilmiah dapat dilakukan dan atau melakukan rehabilitasi dan konservasi hutan mangrove  pada lokasi yang berbeda.

 

Peran masyarakat  sangat strategis dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya pesisir dan laut. Wujud rill dari kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan tidak tumbuh dengan sendirinya. Namun perlu upaya dari stake holder lain dalam menumbuhkan kesadaran tersebut. Sebagiam besar masyarakat pesisir telah terbiasa  dengan pemahaman bahwa ikan dilaut tidak akan habis. mereka menganggap bahwa laut menyimpan sumberdaya yang tidak akan pernah habis.

Keterbatasan pemikiran semacan ini yang mendorong dilakukannya usaha-usaha exploitasi sumberdaya ikan dan hewan laut dengan alat yang tidak ramah lingkungan.

 

Untuk mengubah pola pikir ini tidak, tidak cukup dengan hanya memberikan penyuluhan yang bersifat instant dan ataupun program pemberdayaan yang bersifat musiman.

Dorongan yang terkuat dari adanya tindakan perusakan lingkungan adalah kesejahteraan masyarakat itu sendiri.  Masyarakat pesisir butuh peningkatan pendapatan untuk pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari. Untuk itu perlu pendekatan yang permanen sampai pada batas waktu dimana kesejahteraan masyarakat dapat di tingkatkan atau paling tidak adanya mata pencaharian alternative untuk membiayai kehidupan sehari-hari mereka tanpa harus merusak lingkungan. Indikator perubahan tersebut dapat dilihat dari jumlah masyarakat yang beralih profesi dari menangkap ikan menjadi petani ikan atau membudidayakan ikan dan non ikan seperti rumput laut.

 

Sebagian besar masyarakat pesisir sulit untuk menerima masukan yang sifatnya hanya penyuluhan semata tanpa dibarengi dengan intensitas pemberian yang terus menerus. Untuk itu pendekatan strategis yang dapat dilakukan untuk dapat memberikan perubahan pemahaman bagi masyarakat pesisir  adalah dengan pendekatan cultural yang benar-banar berbasis pada kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini yang sementara dan terus dikembangkan oleh Progran Coremap kabupaten Buton didaerah-daerah pesisir kabupaten Buton. Disamping itu juga untuk menumbuhkan rasa kecintaan yang lebih kuat dimasyarakat dibentuk lembaga-lembaga tingkat desa yang diprakarsai oleh masyarakat itu sendiri yang bertujuan untuk menjaga Terumbu karang sebagai salah satu habitat sangat penting di daerah mereka. 

 

Hal yang perlu dipertimbangkan adalah adanya fasilitator pemberdayaan masyarakat yang menetap dan paling tidak terus memfasilitasi masyarakat untuk mengadakan upaya-upaya perlindungan sumberdaya tingkat desa.

Dukungan motivator tingkat desa juga dapat dibentuk agar dapat memberikan pemahaman yang secara terus menerus di tingkat desa. Penempatan motivator desa yang berasal dari desa tersebut, dipercaya dapat memberikan pendekatan dan motivasi  terus menerus kepada masyarakat desa.

 

Kegiatan strategis yang dapat dikembangkan ditingkat desa dalam rangka perlindungan sumberdaya alam khususnya sumberdaya pesisir dan laut adalah pembentukan daerah perlindungan laut (DPL), yang ditunjang dengan pembuatan Peraturan desa (Perdes). Ini dapat   memberikan kepastian hukum tentang pengelolaan sumberdaya alam khsusnya pesisir dan laut bagi masyarakat desa.  Penyusunan DPL dan Perdes dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat yang juga aturan tiap butir pelanggaran ditetapkan bersama dengan difasilitasi oleh motivator tingkat desa akan memberikan solusi terbaik pagi penjagaan sebagian kawasan pesisir. 

 

Disamping itu menumbuhkan potensi kearifan lokal dibeberapa daerah dapat menjawab keberlasungan pemanfaatan sumberdaya.  Masyarakat akan didorong untuk memanfaatkan sumberdaya secara arif dan bijaksana sehingga keberlangsungan sumberdaya pesisir dan laut dapat terus berlangsung.

 

Hutan mangrove di kawasan Kawasan Pesisir umumnya didominasi oleh beberapa jenis diantaranya; Rhizophora spp., (Rhizophora apiculata, R. Mucronata, R. stylosa dll) , Soneratia spp (Sonneratia caseolaris, Soneratia alba, dll), Avicennia alba, Bruguiera spp, Aegiceras corniculat, Nypa fruticans, ,Cerbera spp., Xylocarpus spp., Lumnitzera racemosa, Heritiera littoralis dan Excoecaria agallocha.

Jika dilihat dari segi zonasinya, jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.). Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

 

Tahapan yang dapat dilihat secara praktisi adalah :

1.   Survei dan Penetapan lokasi penanaman

Kegiatan survei lapangan dapat melibatkan beberapa orang yang mengenal dengan dekat lokasi yang akan menjadi sasaran kegiatan penanaman.  Pada kegiatan ini di lakukan upaya identifikasi jenis-jenis mangrove yang ada, karakteristik substrat serta kondisi rill hutan mangrove. 

Tipe substrat didominasi oleh tipe substrat berlumpur dan dibeberapa tempat ditemukan substrate berpasir dan kadang bercampur cangkang bivalvi dan gastropoda mati. 

Bahkan yang lebih ekstrin di Kawasan Pesisir teluk lasongko Indonesia terdapat mangrove yang tumbuh diatas batuan cadas.

Mengingat lokasi yang akan di jadikan sasaran rehabilitasi terdapat di dalam kawasan hutan mangrove, maka kondisi rill yang akan menjadi pertimbangan utama adalah jenis mangrove yang sesui untuk ditanam sesuai dengan karakteristik dan tipe subrat berlumpur, berpasir, lumpur berpasir, dan atau bercampur kerang-kerangan mati.  Karakteristik spesifik dibeberapa tempat juga adanya aliran-aliran kecil sungai yang menjurus keteluk.  Tentunya jika ada yang kondisinya seperti ini, upaya rehabilitasi sedapatnya tidak di lakukan pada daerah aliran sungai–sungai kecil karena hanya akan mengalami kegagalan. 

 

2.    Persemaian dan Pembibitan Mangrove .

Pengumpulan bibit sebaiknya dilakukan oleh kelompok yang dibentuk didesa.  Jenis bibit yang akan di jadikan bibit adalah yang dominan berada di sekitar areal rehabilitasi.  Pertimbangan yang lain adalah dengan melihat struktur tanah dan ekologi kawasan rehabilitasi.   Jenis Rhizophora mucronata adalah jenis bibit yang mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap tekanan ekologi.  Untuk meningkatkan presentase kelangsungan hidup penanaman mangrove, dilakukan upaya persemaian untuk bibit yang akan di tanam.  Persemaian di lakukan disekitar areal penanaman. Ini untuk memudahkan akses penanaman. 

Upaya pembibitan dilakukan dengan memasukkan bibit kedalam polibag dan setelah di isi didalam polibag diletakkan di dalam areal pembibitan.  Untuk menghindari terhadap gangguan babi hutan yang sering mencari makan dan menggali makanan disekitar areal persemaian dan pembibitan, tempat pembibitan dilindungi dengan waring yang menghalang aktivitas babi hutan masuk kedalam areal pembibitan.

Upaya persemaian dan pembibitan dilakukan 1 – 3 bulan sebelum penanaman.  Ini dilakukan agar bibit dapat berkecambah dulu untuk kemudian di lakukan penanaman.  Upaya ini diharapkan akan meminimalisasi kematian bibit dan meningkatkan persentase bibit yang hidup.

 

3. Penanaman. 

Setelah bibit mulai tumbuh didalam areal pembibitan, dilakukan upaya penanaman pada areal rehabilitasi.  Upaya ini melibatkan seluruh anggota kelompok yang memobilisasi anggota masyarakat yang peduli tentang pentingnya upaya rehabilitasi mangrove.  Upaya penanaman dilakukan dengan sangat hati-hati.  Bibit yang telah tumbuh di areal pembibitan dibawa ke areal penanaman.  Setelah sampai pada daerah dekat tempat penanaman, polibagnya disobek kemudian dilakukan penggalian lubang pada areal penanaman dan dimasukkan bibit beserta tanah/lumpur kedalam lubang penanaman mangrove.  Untuk menghindari tumbangnya bibit karena tekanan arus pasang dan atau pengaruh ombak/gelombang, tiap bibit mangrove diikat pada ajir yang dipatok didekat mangrove.  Ajir ini sengaja diletakkan di samping setiap bibit yang ditanam mengingat tiap bibit yang akan ditanam belum terlalu kuat untuk menopang dirinya dan atau untuk tetap berdiri karena belum mempunyai akar yang kuat.

Pada daerah yang mempunyai potensi gelombang yang cukup tinggi, sebaiknya dilakukan pemasangan APO / APO Barlapis yang terbuat dari kayu. Bambu dan bahkan batu dan coran semen.  APO berfungsi sebagai peredam ombak sehingga pengaruhnya tidak dapat mempengaruhi bibit mangrove.

Pola penanaman bibit mangrove dilakukan dengan jarak satu meter antara bibit yang satu dengan yang lainnya. Penanaman bibit dilakukan serempak dengan melibatkan seluruh anggota kelompok.  Sedapat mungkin melibatkan anak sekolah agar terjadi pembelajaran yang mendasar tentang pola merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. Pelajaran yang paling berharga dalam upaya rehabilitasi bagi pelajar jika pelibatan langsung kepada mereka. Ini akan membekas dalam pikiran dan hati mereka untuk mengetahui pola rehabilitasi mangrove. Dan tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan sendiri pada kawasan yang lain sebagai bagian dari upaya kokurikuler mereka. 

Pada beberapa daerah yang sangat ekstrim dengan pola pasang surut yang sangat lebar, sebaiknya jangan dilakukan pola penanaman yang konvensional.  Pola penanaman konvensional biasanya hanya penancapan bibit yang dibarengai dengan pengikatan pada ajir.  Namun sebaiknya menggunakan modifikasi pada sistem persemaian.  Modifikasi persemaian dapat dilakukan pada polibag bambu dan atau pot yang didisain khusus.  Bentuk polibag dapay dilakukan dengan panajaman pada bagian bawah yang juga berfungsi sebagai pasak untuk tiap bibit. Modifikasi juga dapat dipadu dengan pengikatan pada ajir berlapis untuk memperkokoh dudukan bibit.

Yang perlu mendapat perhatian adalah bukan seberapa banyak bibit yang kita dapat tanam tapi seberapa banyak bibit yang bisa bertahan hidup dengan kondisi lokasi yang kadang bersifat ekstrim.

 

 

5.   Pemeliharaan.

Pola pemeliharaan sebaiknya melibatkan seluruh anggota kelompok dengan menjaga tiap kaplingan areal penanaman. Tiap anggota masyarakat dipercayakan untuk menyulam tiap bibit mangrove yang kebetulan rusak atau tercabut oleh aktivitas arus dan gelombang. Untuk mengontrol kelangsungan hidup tiap bibit dan anakan mangrove, sebaiknya dilakukan pengontrolan setiap 3-4 hari sekali sampai pada saat bibit mangrove yang ditanam berusia 3 – 5 bulan. Selanjutnya dilakukan pengontrolan seminggi sekali selama 10 -12 bulan.  Setelah diatas satu tahun dapat dilakukan pengontrolan selama 1 – 2 kali sebulan.

Pemeliharaan mangrove adalah hal penting yang perlu dilakukan untuk menjaga agar mangrove tetap hidup dan bertahan dengan baik.

Komplesitasnya kondisi fisik dan ekologis lingkungan serta kadang adanya hama dan gangguan lain membuat mangrove kadang mengalami kematian walaupun umur mangrove telag berusia diatas 8 – 12 bulan,  namun jika dilakukan pengontrolan yang rutin maka akan dapat meminimalisasi kegagalan yang ada.

 

 

Trik Rehabilitasi mangrove.

1.    Kenali daerah yang akan direhabilitasi.

2.    Kenali faktor fisik (pasang surut, pola arus, kecepatan arus, tipe substrate, gelombang), biologi (hama, jenis mangrove yang dominan, ketahanan tiap bibit, penyakit buah mangrove, gulma, epifauna) dan kimia (pH substrat, kandungan unsure hara)  daerah yang akan direhabilitasi.

3.    Lakukan persemaian dengan waktu yang dikondisikan berdasarkan jenis bibit.

4.    Lakukan pemeliharaan dengan pelibatan masyarakat setempat.

5.    Tentukan pola penanaman yang sesuai dengan bibit dan areal penanaman.

6.    Sebaiknya mengambil bibit yang bersumber pada areal terdekat.

7.    Sebaiknya menanam mangrove pada lokasi yang paling tidak pernah ditumbuhi oleh mangrove.

Oleh : Ma’ruf Kasim.

Dugong umumnya bermigrasi pada tempat-tempat tertentu untuk mencari makan dan menyebar pada daerah-daerah tropis dunia (lihat penjelasan tentang Konservasi Dugong di web ini).  Penyebaran dugong ini umumnya sangat tergantung pada lingkungan perairan dan terutama sumber makanan yang berupa habitat alami beberapa jenis seagrass seperti Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp yang merupakan makanan alami dugong.  Atau kita sering menemukan dugong pada lingkungan perairan yang terlindung dari ombak dan arus yang kuat.

 

Di Indonesia sendiri, populasi dugong sangat sedikit.  Dilaporkan tahun 1970 populasi dugong mencapai 10.000 ekor dan tahun 1994 di perkirakan popluasinya hanya sekitar 1000 ekor. Penyebaran dugong di Indonesia laporkan berada di kawasan timur Indonesia mencakup Sulawesi (Buton, Bunaken, Wakatobi Takabonerate), Nusa Tenggara Timur (Sumba, Lembata, pulau Flores, Teluk Kupang Kepulauan Komodo), Maluku Pulau Aru Pulau Lease seram dan Halmahera) Perairan papua (Pulau Biak, sorong dan Fakfak) dan sebagian kecil pada perairan Sumatra (Riau, Bangka dan Pulau Belitung), Jawa (ujung Kulon, pantai Cilacap, Cilegon, labuhan dan Segara Anakan) dan Bali. Informasi tentang keberadaan dugong hanya di peroleh dari beberapa nelayan yang kebetulan secara tidak sengaja menangkap atau melihat dugong itu sendiri.

Penyebaran dugong lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan habitat lamun yang merupakan makanan utama mereka disamping topografi dan ketenangan daerah. Pada saat pasang dugong biasanya active mencari makan dan berenang dipinggir pantai bersama anaknya. Aktivitas mencari makan biasanya dilakukan dengan berenang kedasar dan memakan seagrass dengan cara bergerak kearah belakang. Beberapa ilustrasi yang terlihat dari bekas grazing dugong adalah dugong memakan hamper seluruh bagian dari lamun termasuk daun batang dan rizom.

Dugong hanya memakan lamun, itupun hanya beberapa jenis di antaranya  Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp. Dan beberapa jenis lamun yang berdaun lunak Sementara penyebaran lamun ini hanya ada pada kawasan-kawasan tertentu, yang saat sekarang pun telah terjadi pengrusakan dan degradasi yang cukup serius.  Tanpa lamun dugong akan kehilangan makanan dan ini akan berdampak pada penurunan populasi dugong itu sendiri.

Kurangnya populasi dugong disebabkan oleh beberapa factor diantaranya ; telah mulai berkurangnya habitat lamun yang merupakan makanan utama dari dugong.

Disamping itu masih maraknya perburuan dugong oleh sebagian besar masyarakat bajo yang menjadikan Dugong sebagai santapan yang lezat pengganti daging, sangat mempengaruhi populasi dugong. 

Pada bulan april 2005 dilaporkan ditemukan dugong di perairan kecamatan siontapina yang merupakan desa Coremap II Buton. Kemudian pada bulan  Juni 2007 di temukan Kecamatan Siontapina Kabupaten buton Sulawesi tenggara. Dan yang terakhir pada bulan Maret 2008, lagi ditemukan di perairan desa Lasalimu Pantai (Desa Coremap II) Kecamatan lasalimu kabupaten Buton. Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tertangkapnya dugong tersebut karena terperangkap kedalam sero masyarakat. Diperkiraan Jumlah populasi Dugong masih ada beberapa yang hidup diperairan Kabupaten Buton walaupun populasinya diperkirakan tidak lebih dari 20 ekor. 

Setiap dugong yang tertangkap biasanya dilepaskan dan atau di simpan didalam karamba untuk sementara sebelum dilepas kelaut.  Pola pikir tentang penyelamatan lingkungan dan sumberdaya laut terutama spesies langka yang ada di laut seperti dugong,  sudah terbangun dikalangan masyarakat, khususnya setelah adanya program Coremap di Desa tersebut.

 

Kawasan Perairan Timur Indonesia adalah kawasan potensial untuk menjaga keberlangsungan kehidupan digong di Indonesia. Hal ini karena masih adanya beberapa daerah yang mempunyai habitat lamun yang masih terjaga.  Untuk itu akan sangat diharapkan peran semua pihak khususnya masyarakat pesisir  kawasan timur Indonesia untuk dapat bersama sama menjaga keberlangsungan dugong sebagai salah satu hawan langka patut untuk dilindungi bersama. 

 

Oleh Ma’ruf Kasim

Biodiversity yang merupakan perpajangan diri istilah biological diversity di kenal dengan “Keanekaragaman hayati” dan merupakan pengistilahan dari seluruh mahluk hidup tingkat tinggi (hewan dan tumbuhan) maupun tingkat rendah (micro-organisma) serta seluruh komponen lingkungan fisik, biologi dan ekologi.  Istilah ini juga menggambarkan kekayaan organisma hidup yang ada pada suatu kawasan tertentu.  Di dunia terdapat lebih dari 1.75 juta jenis dari organisma yang diketahui dan ini terus berkembang sesuai dengan perkembangan pengkategorian penemuan jenis sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.  Sampai saat ini pun penggolongan jenis dari organisma belum sepenuhnya mengungkapkan seluruh jenis hewan, tumbuhan dan micro-organisma yang ada di dunia. 

 

 

Image hosting by Photobucket

Hampir sekitar 3 – 100 juta jenis yang belum di ketahui yang tersebar di seluruh kawasan-kawasan khusus yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Satu di antara tiga pengkategorian keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman hayati tingkat genetik yang dikenal dengan Genetic Diversity. Keanekaragaman genetik ini merupakan unsur terkecil dari pengkategorian keanekaragaman hayati. Level ini merupakan bagian dari keanekaragaman tingkat spesies (species diversity) yang ada dalam suatu populasi dan mencegah proses interbreeding serta pengaruh dari perubahan lingkungan, penyakit dan pengaruh fisik lainnya. Level terbesar dari keanekaragaman hayati ini adalah keanegaraman hayati tingkat ekosistem yang dihuni oleh pupolasi-populasi hewan atau tumbuhan tingkat tinggi dan rendah yang berada di laut, pantai, sungai, danau, rawa, padang rumput, daerah batuan, hutan, padang pasir, pegunungan, perbukitan, lembah, dan lain-lain.

 

 

Image hosting by Photobucket

sumber foto : adlumintu.com 

Pada tahun 1992, di Rio de Janeiro, telah di sepakati dua ketetapan yaitu konvensi perubahan lingkungan global (Climate change) dan keanekaragaman hayati (Biological diversity).  Perjanjian ini merupakan perjanjian pertama secara global dalam upaya konservasi sumberdaya termasuk upaya perlindungan keanekaragaman hayati yang harus di tindak lanjuti oleh tiap Negara dengan upaya perlindungan sumberdaya keanekaragaman hayati secara rill.  Lebih dari 180 negara di dunia yang sekarang telah melaksanakan konvensi tentang keanekaragaman hayati tersebut.  

Image hosting by Photobucket

Secara umum perjanjian tersebut mempunyai tujuan antara lain; upaya perlindungan dan konservasi keanekaragaman hayati, Pemanfaatan yang arif dan berkesinambungan dari tiap komponen biodiversity tadi dan terakhir adalah penyelarasan peningkatan pemanfaatan sumberdaya yang dilakukan secara komersil atau upaya pemanfaatan sumberdaya dari tingkat terkecil yaitu genetic biodiversity secara arif dan dengan tetap memperhatikan unsur-unsur pelestarian.

Image hosting by Photobucket

sumber foto : scouts-troinex.ch

Namun upaya ini perlu lebih di sesuaikan dengan kondisi Negara masing-masing dengan melihat seluruh aspek pendukung dan potensi negara masing-masing.Khusus dalam upaya konservasi sumberdaya bidang kelautan yang merupakan bagian dari konvensi biodiversity ini di tetapkan di Jakarta tahun 1995 yang dikenal dengan “Jakarta Mandate on Marine and Coastal Biological Diversity. Konvensi ini merupakan program aksi khusus yang di fokuskan pada upaya manajemen wilayah pesisir dan kelautan secara terpadu, pemanfaatan sumberdaya kelautan yang berkesinambungan, perlindungan area tertentu, upaya budidaya kelautan dan penanganan alien spesies.  Ini merupakan pioneer dari seluruh upaya perlindungan keanekaragaman hayati kelautan yang akan ditetapkan oleh sebagain besar Negara yang mempunyai potensi kelautan serta seluruh aspek pendukungnya.

Image hosting by Photobucket

sumber foto : sailingisues.com

Indonesia sendiri mengaplikasikan upaya tersebut dengan berbagai program-program kerja dan peraturan pemerintah yang menyentuh pada upaya pelestarian sumberdaya pesisir dan kelautan serta adanya kawasan-kawasan konservasi dan taman laut nasional.  Wujud rill lain tentunya telah dan tetap di lakukan baik itu sebelum dan sesudah penandatangan perjanjian tadi.  Namun upaya serius masih tetap diharapkan lebih banyak, tentunya dengan melihat potensi tiap daerah atau kekhasan keanekaragaman hayati yang ada dan bukan saja dengan upaya perlindungan hewan atau tumbuhan endemik tetapi juga dengan upaya penyelamatan ekosistem yang telah rusak dan lambat laut hilang.

Image hosting by Photobucket

  

Oleh Ma’ruf Kasim 

Tidak terlalu berlebihan jika kita mau melihat Negara lain dalam upaya perlindungan dan pemeliharaan lingkungannya, terutama dalam menjaga kelangsungan ekosistem dalam suatu Kawasan tertentu.
Jepang adalah salah satu negara maju dengan perkembangan tekologi yang begitu pesat.  Ini lah yang mendorong percepatan perubahan lingkungan begitu cepat. Namun perubahan itu di imbangi dengan pola pemeliharaan lingkungan yang sangat disiplin.  Penataan Lingkungan sebagai suatu Kawasan perlindungan dan konservasi sangat mewarnai pengelolaan kawasan alami di beberapa tempat di seluruh Jepang.  Khususnya daerah Hokkaido yang mempunyai sangat banyak kawasan konservasi alam, begitu terjaga keaslian dan kecantikannya.  Salah satu kawasan di Hokkaido yang oleh ENICEF pada musim panas tahun lalu (2005) di tetapkan sebagai salah satu kawasan di dunia yang sangat terjaga keaslian dan kealamiannya  adalah Shiretoko yang terletak di sebaleh utara Hokkaido.

Image hosting by Photobucket 

Sumber foto : famille.ne.jp

 Kawasan ini merupakan kawasan yang amat sangat alami dengan struktur ekosistem daerah dingin yang asli.  Kita masih dapat menyaksikan begitu cekatannya seekor beruang  menangkap ikan di sepanjang sungai, sementara di sekitar itu pula ratusan ekor deer berjalan dan memakan rumput di padang yang luas serta ribuan burung dan ratusan spesies hewan lain yang tetap eksis.  Ataupun keunikan tingkah laku anjing laut yang penguin yang lucu masih mewarnai kawasan pinggir laut Shiretoko.  Pemandangan alami seperti ini nampaknya memberikan gambaran begitu indah dan kompleksnya sistem ekologis hutan dan pesisir pantai.  Keberadaan tumbuhan sebagai produsen primer dan hewan kecil dan besar sebagai consumer serta beberapa hewan lain sebagai predator memberikan gambaran rantai makanan dan siklus materi yang sangat apik.  Shiretoko hanyalah salah satu dari sekian banyak kawasan perlindungan alam di Jepang yang sampai sekarang masih terjaga, disamping kawasan konservasi Akan, Marsh Kushiro dan banyak lagi.

Image hosting by Photobucket 

Sumber foto : hotel-shiretoko.com


 Lalu bagaimana bisa ekosistem alami itu bisa terjaga?.  Peranan pemerintah yang sangat di dukung oleh masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga sistem ekologis lingkungan begitu kuat.  Mungki karena sebagian besar masyarakat Jepang sadar dari beberapa pengalaman pahit yang melanda negeri ini karena ketidak stabilan lingkungan dan masalah pencemaran yang sangat akut.  Kita masih mengingat kasus minamata yang memakan korban ratusan warga.  Dan beberapa bencana alam yang mamakan ratusan korban.
Bukan berarti Negara Jepang tidak punya masalah dengan perlindungan dan pemeliharaan lingkungannya.  Sebagai Negara yang sangat cepat pekembangan Industrinya, tentunya laju perubahan tata-ruang alam dan kebutuhan lokasi pengembangan sangat tinggi.  Namun ini di barengi dengan kegigihan pemerintah setiap daerah dalam upaya untuk membuat penataan dan pengkajian lingkungan yang begitu rapih dan disiplin.
Upaya perlindungan alam sangat di tunjang oleh sangat banyak factor dan keterlibatan masyarakat serta stakeholder lain yang berkerja secara padu.  Kita tentunya akan sangat merindukan melihat kawasan alami yang masih terjaga.

 Image hosting by Photobucket

sumber foto : bali-bird-park.com

 Tentunya bukan hanya nagara Jepang yang mempunyai kawasan perlindungan dan konservasi alam.  Sebagai kawasan tropis yang sangat amat kaya dengan ribuan  bahkan jutaan hewan dan tumbuhan asli di tambah dengan ratusan hewan endemik yang khas dan tipical untuk tiap daerah di seluruh kawasan Negara tercinta Indonesia,  memberikan potensi yang sangat besar bagi penataan pengembangan kawasan konservasi.

 Image hosting by Photobucket

Sumber foto : wildanimalpark.com.au
Kita memiliki begitu banyak hewan yang masuk dalam kategori hampir punah.  Namun apakan kita mampu memertahankannya untuk tidak punah ?.  Kita memiliki jutaan hektar hutan dan kawasan estetik yang sangat cantik, namun apakah kita bisa menjaga dan mengembangkannya sebagai kawasan konservasi yang bukan hanya diatas kertas?.  Saya sangat percaya kalau kita masih mempunyai dan kalau bisa saya katakan masih amat sangat mencintai dan merindukan keaslian alam kita.  Kasus Timika yang sampai saat ini masih terus berlanjut dengan “perampasan secara halus��? kekayaan alam papua yang kita cintai, pencemaran sungai dan teluk Buyat, di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara dengan kadar sianida yang tinggi, belum tuntas dan masih meninggalkan tanda tanya besar. Kasus banjir bandang di Jawa timur masih meninggalkan duka yang dalam, kekeringan di beberapa kawasan di jawa terus menggoreskan ketakutan warga setempat serta masih banyaknya teguran alam terhadap kita yang kurang bijaksana dalam merawat alam kita.  Alam dan lingkungan kita tidak butuh kemanjaan yang teoritis.  Alam membutuhkan pengertian dan perhatian kita untuk kembali melihat dan menjaganya agar “teguran��? yang menakutkan tidak akan di rasakan oleh anak cucu kita.
 Image hosting by Photobucket

Belum cukupkan “teguran��? itu mengingatkan kita untuk sadar. Mengapa kita tidak belajar dari negara seperti Jepang dan atau beberapa Negara lain yang mau kembali menyapa alam dengan lembut, merawat alam dengan perlakuan rill serta memanjakan alam bukan hanya dengan kata-kata.

 Salam 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.