Prof. Ma’ruf Kasim diundang pertemuan KAVLI 2016

Posted on

Kavli Frontier adalah garda depan peneliti Kavli yang tergabung dalam komunitas peneliti ternama Amerika dan Indonesia.  Kavli Frontier melakukan  pertemuan tahunan yang dimulai sejak tahun 2011, yang diikuti oleh peneliti-penelti muda terkemuka Amerika dan juga peneliti Indonesia. Tercatat bahwa beberapa universitas yang terus diundang dalam pertemuan ini adalah ITB, UI, UGM, IPB, UNDIP, ITS, UNHAS, UPI, UNIBRAW. Pertemuan ini sengaja diadakan untuk meningkatkan kemampuan dan kerjasama antara peneliti-peneliti dari universitas ternama di Indonesia dan peneliti dari Amerika. Lembaga Indonesia yang juga menjadi sponsor pertemuan ini adalah AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia). Bidang ilmu  umumnya penelitian dasar dan penelitian terapan  untuk semua keahlian. Satiap tahunnya setidaknya ada 200-300 nama yang mengajukan keinginan untuk mengikuti pertemuan ini dan setelah melakukan seleksi, Stering Comite KAVLI hanya mengundang 20 nama untuk hadir dalam pertemuan tahunan Kavli. Sulitnya persyarakat untuk dapat mengikuti Pertemuan Kavli Frountier menyebabkan peserta dari beberapa universitas lainnya di Indonesia jarang terpilih untuk mengiktui pertemuan ini. Persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah Peneliti memelihi gelar Doktor, memiliki publikasi internasional, track record penelitian yang cukup siginifikan, memiliki usia dibawah 45 tahun (saat seleksi), dan reputasi kerjasama dan kolaborasi yang pernah dilakukan. Tahun 2016, salah seorang peneliti Universitas Halu Oleo terpilih untuk mengikuti pertemua Kavli tanggal 1–5 Agustus 2016 di Malang dan Surabaya.  Prof. Maruf Kasim di undang untuk mempresentasekan hasil penelitian dengan tema Teknologi RaJA (Rakit Jaring Apung)  dalam budidaya rumput laut di Indonesia. Pertemuan ini sangat baik karena di samping akan dapat melakukan kolaborasi dengan peneliti dari US dan Australia, peserta juga dibekali dengan pengetahuan menyusun proposal penelitian dan penyusunan artikel internasional bereputasi internasional. Salah satu yang memberikan presentase juga adalah AIPI untuk grant DIPI (Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia). Dalam pertemuan yang banyak di hadiri oleh peneliti US dan Austalia ini benar-benar memberikan pengetahuan yang baik dan pengalaman yang cukup baik.  Rata-rata peserta mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam meneliti. Hal yang menarik adalah karena lintas bidang ilmu yang dimiliki peserta dan ini memberikan pengayaan cukup banyak mengenai perkembangan keilmuan dunia saat ini.

Memanfaatkan kesempatan hadir dalam pertemuan Kavli 2016 yang kebetula di adakan di Kota Malang, Prof. Ma’ruf Kasim juga di undang pada The 2nd International Symposium on Food, Agriculture and Natural Scineces yang diadakan pada tanggal 2-3 Agutus 2016 di Universitas Brawijaya Malang sebagai pembicara.  Symposium international ini kebetulan bersamaan waktunya dan juga pada kota yang sama walaupun dengan tempat pelaksanaan yang berbeda. Pada internasional Symposium ini juga Prof. Ma’ruf Kasim khusus di undang mempresentasekan Teknologi Budidaya rumput laut RaJA dan JaKA sebagai salah satu solusi bagi permasalahan budidaya rumput laut saat ini. Teknologi ini telah dipatenkan dengan nama RaJA (Rakit Jaring Apung) dan paten kedua dengan judul JaKA (Jaring Kantung Apung). Keduanya adalah teknologi budidaya yang dapat menjadi masa depan budidaya rumput laut Indonesia. Tampil pada dua pertemuan internasional dengan waktu yang berdekatan memberikan pengalaman cukup menarik. Namun demikian ini akan memberikan pengetahuan dan pemahaman akan pentingnya meningkatkan kemampuan dalam meneliti.

Sebenarnya Kedua teknologi yang telah di patenkan ini termasuk dari 10 INOVASI TERBAIK INDONESIA. Prof. Ma’ruf Kasim barusan mendapatkan informasi dari Panitia Global Innovation Forum (TGIF) 2016 yang diusung oleh World Technopolos Associations (WTA) bekerjasama dengan United Nations Eductional, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang akan diadakan pada tanggal 20-23 September 2016. Inovasi RaJA dan JaKA telah mengalahkan lebih dari 1500 inovasi yang ikut dalam seleksi ini dan berhasil menjadi 10 besar yang akan mewakili Indonesia dalam forum Terbesar Inovasi internasional 2016 di Tangerang. Dalam acara inovasi yang berlevel Internasional ini akan dihadiri oleh peserta dari berbagai negara asing sebagai tamu undangannya

Insya Allah Prof. Ma’ruf Kasim akan menghadiri acara tersebut dan mencoba mempresentasekan yang terbaik. demi nama Universitas Halu Oleo dan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Advertisements

PROF. MA’RUF KASIM MASUK 10 BESAR INOVATOR TERBAIK INDONESIA

Posted on Updated on

 

Global Inovation Forum  baru dilaksanakan di Tangerang Selatan pada tanggal 20-23 September 2016.  Acara ini merupakan even intenrasional yang menampilkan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi perkembangan teknologi saat ini.  Saat ini Global Inovation Forum mengambil tema Innovation for Sustainable Development dari Indonesia untuk Dunia. Salah satu acara paling bergengsi dalam forum tersebut adalah pemilihan inovasi terbaik Indonesia yang mewakili Indonesia dalam acara Global Inovation Forum tersebut.  Pemilihan 10 pemenang terbaik innovator Indoneisa sudah dilaksakana sejak Bulan Mei sampai dengan Bulan September 2016.  Proses yang dilakukan adalah dengan menjaring semua inovasi yang ada di Indonesia untuk di seleksi menjadi yang terbaik. Tema utama dari inovasi tersebut harus bermanfaat bagi kehidupan Manusia.  Dari lebih 160 inovasi yang terjaring kemudian ditentukan hanya sepuluh yang terbaik dengan mempertimbangkan berbagai tujuan Sustainable Development Goals antara lain : 1. Tanpa Kemiskinan . 2. Tanpa Kelaparan. 3. Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan  4. Pendidikan Berkualitas  5. Kesetaraan Gender 6. Air Bersih dan Sanitasi,  7. Energi Bersih dan Terjangkau.  8. Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak 9. Industri, Inovasi dan Infrastruktur 10. Mengurangi Kesenjangan,  11. Keberlanjutan Kota dan Komunitas,  12. Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab, 13. Aksi Terhadap Iklim 14. Kehidupan Bawah Laut 15. Kehidupan di Darat,  16. Institusi Peradilan yang Kuat dan Kedamaian 17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Tentunya pertimbangan yang diambil didasarkan pada kondisi rill yang terjadi di Indonesia.  Dari berbagai penilaian tersebut dipilih 10 Inovator Terbaik Indonesia dan salah satu dari Inovator tersebut adalah Prof. Ma’ruf Kasim, yang juga merupakan kepala pusat Studi Unggulan Rumput laut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo.  Karya yang ditampilkan adalah RaJA (Rakit Jaring Apung) dan JaKA (Jaring Kantung Apung) Masa Depan Teknologi Budidaya Rumput laut Indonesia. Dipilihnya Inovasi RaJA dan JaKa karena di anggap merupakan salah satu inovasi yang dapat memberikan nilai lebih bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.  Terlebih lagi karena RaJA dan JaKA merupakan teknologi yang sederhana dan dapat diimplementasikan dengan mudah oleh masyarakat pesisir Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Rektor Universitas Halu Oleo sangat mendukung pengembagan inovasi ini dengan membentuk Pusat Unggulan Rumput laut di bawah LPPM UHO yang khusus mengembangkan produksi dan karya inovasi yang berkaitan dengan rumput laut.

Saat Ini Prof. Ma’ruf Kasim telah mendapatkan 3 penghargaan tingkat nasional yang berkaitan dengan pengembangan teknologi budidaya Rumput laut.  Pengembangan RaJA dan JaKA telah di lakukan sejak tahun 2011  dengan melihat berbagai persoalan yang terjadi pada masyarakat pembudidaya. Penelitian ini terus dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Persoalan yang serius seperti serangan hama dan penyakit, perselisihan yang kerap terjadi karena penggunaan lahan dari teknologi budidaya longline, pertumbuhan yang kurang baik serta berbagai persoalan lainnya.  Untuk itu Prof. Ma’ruf Kasim mencoba melakukan penelitian agar berbagai persoalan tersebut dapat diminimalisasi.  Disain dan pengembangan RaJA dan JaKA adalah merupakan solusi tepat bagi berbagai persoalan budidaya saat ini.  RaJA dan JaKA mempunyai keunggulan antara lain RaJA di disain kuat untuk di operasikan didaerah berarus keras dan bergelombang besar sementara JaKA dioperasikan pada daerah yang relatif tenang. RaJA dan JaKA mempunyai berbagai keuntungan antara lain : 1). Mudah di rakit. 2) Mudah dioperasikan, 3) Melindungi rumput laut dari hama. 4) Meminimalisasi serangan penyakit ice-ice. 5) Menjaga rumput laut dari perekatan epiphyte. 6) Menjaga rumput laut dari kotoran sampah lautan. 7) Menjaga penataan ruang penggunaan laut rapi dan bersih. 8) Menghindari perselisihan antar pengguna lahan.9). Memacu pertumbuhan rumput laut. 10) Mudah dipindahkan kedaerah yang aman. 11) Mempunyai keuntungan ekonomi jangka panjang. 12) Dapat dioperasikan disemua topografi laut, 13) Dapat dioperasikan disemua musim (sepanjang Tahun).

Berkat RaJA dan JaKA, Prof. Ma’ruf Kasim juga telah pernah di undang berbicara diberbagai seminar Nasional dan Internasional, seperti di Australia, Prancis, China, Malaysia, dan Insya Allah bulan November 2016 di Thailand.

Karya ini sebenarnya merupakan salah satu karya yang dipersebahkan buat anak dan Istri tercinta (Erty M. Hatma, Cahyani Fitri Melania dan Kenzie Hiromasa) dan juga buat Masyarakat Pembudidaya rumput laut.  Ini adalah merupakan Paten saya dan saat ini saya sudah memegang 2 paten yang berkaitan dengan Teknologi Budidaya Rumput laut.

Namun demikian Prof. Ma’ruf Kasim akan terus berupaya berkarya dan terus mengembangkan penelitian yang berguna bagi masyarakat.

Menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain khususnya masyarakat pesisir adalah hal yang sangat membanggakan bagi saya.

 

NYANYIAN KEMATIAN DIWILAYAH PESISIR

Posted on

Ma’ruf Kasim, PhD .  #Laut merupakan anugrah terbesar bagi umat manusia. Didalamnya begitu banyak sumberdaya yang tak ternilai harganya. Potensi sumberdaya kelautan Indonesia sangat tinggi dan bahkan bisa menutupi utang luar negeri Indonesia. Prakiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut Indonesia yang telah dihitung para pakar dan lembaga terkait dalam setahun mencapai 149,94 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.994 triliun. Sementara itu dari beberapa sumber mengatakan bahwa utang luar negeri Indonesia yang pada bulan juni 2008 utang luar negeri Indonesia masih 1,780 Milyar Dollar. Ini artinya bahwa hanya dengan optimalisasi potensi sumberdaya kelautan kita, Negara kita bisa terbebas dari utang luar negeri. Hal ini memang mungkin saja terjadi jika kita benar-benar mau menyadari akan kekuatan dan besarnya potensi sumberdaya yang kita miliki. Hal yang paling mungkin adalah dengan mengkalkulasi potensi sumberdaya terumbu karang indonesia yang sangat tinggi.

Potensi ini terus menyeruak dalam berbagai issu nasional dan internasioanl, dan bahkan pada kegiatan WOC di Manado disebutkan bahwa potensi terumbu karang bisa menjadi suatu kekuatan ekonomi baru bidang pariwisata yang dapat menghasilkan miliaran dollar AS pertahunnya.

Coral Indonesia

Namun saat ini tanpa kita sadari bahwa ternyata sebelum kita benar-benar mau mengoptimalkan nilai ekonomi dari sumberdaya terumbu karang, lambat laun kita telah mulai kehilangan sumberdaya laut sedikit demi sedikit dan pasti. Dari waktu-kewaktu terlihat trend penurunan kualitas dan kuantitas sumberdaya pesisir dan laut. Sumberdaya yang paling terdegradasi adalah terumbu karang dan hutan mangrove. Dari beberapa data terlihat penurunan penutupan karang hidup dibeberapa lokasi kawasan timur Indonesia dan bahkan di beberapa kawasan Konservasi seperti Takabonerate, Bunaken manado, Taman Naional Laut Wakatobi dan Raja ampat. Jika kita melihat lebih jauh mengenai kondisi sumberdaya yang paling mencuat saat ini adalah penurunan penutupan luasan karang hidup daerah terumbu karang. Ada beberapa hal yang menjadikan terumbu karang terdegradasi dengan serius antara lain karena ulah manusia dan tekanan alam itu sendiri. Dan kita tidak dapat memungkiri bahwa kerusakan karena ulah manusia adalah hal terburuk yang sampai saat ini terus terjadi. Saat perhatian masyarakat kota tengah terfokus pada hangatnya kasus KPK, Kejaksaan dan Kepolisian, sebagian masyarakat desa justru lebih memilih untuk mendapatkan sumber daya yang dapat menghidupi keluarga mereka.

Coral Uniq

Mereka seakan tidak perduli dan tidak mau perduli dengan diskusi hangat para komentator dan pengamat yang sudah kenyang dengan berbagai sumberdaya dikota. Sebagian masyarakt desa pesisir memanfaatkan sumberdaya yang dapat mereka peroleh walau hanya cukup untuk satu hari dan sebagian ada yang berupaya untuk mendapatkan sumberdaya dengan jumlah yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan keberlanjutan sumberdaya. Dalam hubungan yang tidak langsung, ternyata keberadaan masyarakat kota yang hidup berkecukupan mempunyai korelasi positif terhadap aktifitas masyarakat desa dalam mencari sumberdaya pesisir dan laut. Sebagian masyarakat desa berusaha untuk mendapatkan sumberdaya lebih untuk menutupi permintaan masyarakat kota dengan menggunakan alat tangkap yang dapat merusak lingkungan.

pengebomikan

Dalam kenyataannya, masih banyak nelayan yang menggunakan bom dan racun dalam mengeksplotasi sumberdaya ikan di terumbu karang. Mereka tidak segan-segan melemparkan bom mereka pada kumpulan ikan ditengah terumbu karang, hanya untuk mendapatkan hasil tangkapan lebih yag dapat dijual dipasar-pasar kota. Dari pengamatan langsung dilapangan dengan nelayan “kebetulan” yang melakukan aksi pengeboman, kami melihat bahwa efek bom benar-benar dahyat dan mematikan. Dengan berat bom ikan 200 – 400 gram kotor (termasuk berat botol) dapat menimbulkan kematian pada radius 5-8 meter. Kematian terbesar ada pada radius < 5 m, kematian sedang ada pada radius 5-10 meter dan kematian ringan pada radius diatas 10 m. Kematian berat artinya semua sumberdaya ikan dan non ikan serta terumbu karang benar-benar mati dan terumbu karang tidak dapat recovery. Kematian sedang adalah kematian beberapa sumberdaya ikan kecil dan sedang sementara 30 – 60 % terumbu karang dapat recovery setelah 3 – 4 minggu. Sementara kematian ringan adalah kematian beberapa jenis ikan kecil dan rusaknya terumbu karang sekitar 10 – 15 %. Ribuan ikan dalam radius < 5 meter benar-benar mati, mengapung dan beberapa tenggelam. Dan hanya sekitar 60 % ikan yang dapat diambil oleh nelayan yang melakukan aktivitas pengeboman. Paling banyak sekitar 80 % ikan yang dapat diambil oleh masyarakat dengan catatan bahwa kebetulan yang terkena bom adalah gerombolan ikan besar yang dapat dengan mudah ditemukan saat ikannya mati. Sementara ikan-ikan lain yang bukan merupakan sasaran pengeboman yang ikut mati karena ukurannya yang masih kecil juga akhirnya mati dengan sia-sia. Belum lagi ribuan juvenile (bakal ikan) ikut mati dan jutaan telur ikan akhirnya hancur oleh getaran yang diakibatkan oleh bom ikan yang sekali dilemparkan. Dalam sekali operasi penangkapan dengan menggunakan Bom, seorang nelayan dapat meledakkan 3–6 bom sehari tergantung pada ketepatan mereka menemukan sasaran gerombolan ikan. Dan sangat jarang dalam sekali lempar kebetulan menemukan sasaran gerombolan ikan. Dapat dibayangkan jika dalam sehari seorang nelayan meledakkan bom 3–6 kali maka jutaan bakal ikan, telur ikan dan bahkan ikan-ikan kecil mati sebelum benar-benar dimanfaatkan.

pengebomikan02

Belum lagi aktifitas penggunaan cyanida yang masih sangat marak dilakukan oleh beberapa nelayan. Kegiatan penangkapan dengan cyanide ini ternyata sama buruknya dengan aktivitas pengeboman walaupun efek rusaknya tidak seperti penggunaan bom. Bukan hanya itu, efek langsung yang juga sangat mematikan adalah matinya zooxanthella (organism karang yang microscopic) yang merupakan organisma satu-satunya penghasil terumbu (kapur karang) yang juga sekaligus menjadi rumah bagi karang dan ribuan ikan serta hewan lainnya. Dengan matinya karang akibat cyanide, maka akan memberikan efek negative pada pertumbuhan terumbu karang itu sendiri. Kita tidak akan dapat lagi melihat keaneka ragaman warna yang dibangun oleh jutaan zooxanthella karena semua karang akan berubah menjadi putih dari mati. Kematian demi kematian yang diakibatkan oleh nelayan pengguna bom dan cyanide sebenarnya juga karena ketidak perdulian kita terhadap sumberdaya yang ada. Kita tetap saja membeli ikan-ikan yang di bom atau ikan-ikan yang diracun oleh nelayan.

cyanidaikan

Tanpa kita sadari kalau kita secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam kematian jutaan ikan yang ada diwilayah pesisir dan laut. Kematian dan kerusakan memang terus terjadi dimuka bumi sebagimana dalam Al Quran pada surat Ar-Rum (30) : 41, yang antara lain berbunyi : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” Seharusnya diantara banyaknya issu politik yang menggema saat ini tidak menghilangkan kepedualian kita untuk terus menjaga sumberdaya yang dapat menjadi asset paling berharga bagi masyarakat Indonesia. Saat ini telah dan terus berlangsung Program Coremap yang telah masuk pada fase II yang secara nyata terus memberikan penguatan-penguatan ditingkat desa dalam upaya menjaga sumberdaya terumbu karang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab utama dari upaya perusakan terumbu karang adalah desakan ekonomi sebagian masyarakat pesisir yang untuk itu kita semua bertanggung jawab (bukan hanya program Coremap) untuk terus meneriakkan kata “PERANG” terhadap segala upaya perusakan terumbu karang. (© Ma’ruf Kasim, PhD)

Mengenal Ikan napoleon

Posted on Updated on

Oleh : Ma’ruf Kasim, PhD

Kenalkan kah anda dengan ikan yang yang satu ini ?

Ikan ini bernama napoleon atau lebih dikenal dengan Napoleon Wrasse. Ikan Napoleon (Cheilunus undulatusadalah salah satu ikan karang besar yang hidup pada daerah tropis. Panjang ikan ini bisa mencapai 1.5 meter. Dan beberapa ikan bisa mencapai ukuran sampai 180 kg pada usia 50 tahun. Kehidupan hewan ini umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter.  Para penyelam biasanya menemukan ikan ini berenang sendiri pada daerah sekitar karang. Dan biasanya sangat jinak dengan para penyelam.  Ikan ini biasanya biasanya tidak terusik dengan aktivitas para penyelam.  Salah satu keunikan hewan ini adalah lingkar bola matanya yang dapat melihat arah sudut pandang sampai 180 derajad. Kebiasaan hidup sendiri pada kedalaman tertentu membuat hewan ini sangat dinantikan oleh para penyelam untuk melihat atau bahkan memotret hewan ini.  Biasanya ikan berenang sendiri mencari makan didaerah dekat karang, karena makanannya yang berupa beberapa jenis sea urchin, molusca dan crustacean memang banyak berada pada daerah sekitar karang. Ikan ini mempunyai pola reproduksi yang hermaphrodite.  Biasanya ikan ini lahir sebagai hewan jantan dan akan berubah menjadi betina saat menjelang dewasa.  Sehingga kadang ditemukan dominasi jantan pada satu populasi ikan kecil sampai ukuran sedang dan akan berubah menjadi dominasi populasi betina saat mendekati matang gonad. Ini memang fenomena unik dialam yang merupakan salah satu strategi sebagian besar hewan laut utntuk mempertahankan kehidupan populasi mereka.

 

Sampai saat ini sangat kurang penelitian yang mengungkap pola adaptasi yang bisa dikembangkan oleh ikan yang satu ini yang jelas bahwa sampai saat ini populasi hewan ini sangat kecil dan merupakan salah satu ikan yang sangat dilindungi.  Populasi ikan ini biasanya didapatkan pada daerah-daerah yang jauh dari kegiatan pengeboman karena dari beberapa pengalaman para penyelam,  mengatakan bahwa  ikan napoleon akan  sangat jarang ditemukan pada daerah dengan kondisi karang yang sudah rusak akibat pengeboman dan atau daerah yang banyak menggunakan potassium sianida.  Ini menggambarkan bahwa keberadaan ikan ini sangat tergantung pada ekosistem yang terjaga. 

 

Mahalnya perdagangan ikan ini merupakan salah satu penyebab populasi ikan ini sangat jauh berkurang dialam.  Warna daging yang putih lembut dengan rasa yang sangat lezat, membuat ikan ini semakin diburu.  Beberapa Negara yang dicatat sebagai  pengimpor ikan ini adalah Singapura, Cina, Hongkong dan Jepang. Juga pernah dicatat beberapa pesanan berasal dari  Canada, Amerika dan beberapa nagara di Eropa. Walau dilakukan dengan tidak resmi, sampai sekarang masih didapatkan beberapa kasus penyeludupan hewan ini keluar dari Indonesia.

Ikan ini merupakan salah satu ikan yang sangat dilindungi dan dilarang perdagangannya saat ini. Oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), ditetapkan ikan Napoleon sebagai salah satu ikan yang dilindungi di dunia karena ikan ini telah langka dan terancam populasinya dialam.  Pada COP 13 CITES di Bangkok, Thailand pada tanggal 2 – 14 Oktober 2004 negara-negara anggota CITES telah menyepakati untuk memasukan jenis ikan ini kedalam Appendiks II CITES dan selanjutnya dalam pemanfaatannya harus sesuai dengan ketentuan CITES, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi CITES sesuai Keputusan Presiden Nomor : 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade In Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora. Dimana pengaturannya di Indonesia dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan c.q. Dirjen PHKA selaku otoritas pengelola CITES. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka pemanfaatan Ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus) yang tidak dilindungi undang-undang dan termasuk dalam Appendiks II CITES dalam penatausahaannya diatur sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar, yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SumberDaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor : 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. 

Khusus untuk dibeberapa perairan Indonesia, kita dapat menemukan ikan ini hidup disekitar daerah sekiatar Irian (raja empat dan sekitarnya) , perairan Sulawesi tenggara (kabupaten Buton, Perairan Wakatobi dan sekitarnya) , Periaran Sulawesi Utara (Bunaken dan sekitarnya), Perairan Nusa Tenggara (Sikka dan sekitarnya), perairan Sulawesi selatan (Takabonerate dan sekitarnya), Perairan Maluku.

Namun demikian karena maraknya pengiriman secara illegal ikan ini ke Singapura, membuat ikan ini telah mulai langka dan sangat sulit untuk ditemukan.  Walaupun dicanangkan sebagai salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia, tidak menyusutkan niat beberapa pencari dan pedagang ikan untuk menjual ikan ini.  Bahkan dengan dilindunginya ikan ini membuat harganya semakin mahal dan semakin menantang mereka untuk menangkap dan menjualnya.

Sangat disayangkan jika keberadaan ikan ini akan musnah dari parairan Indonesia.  Sebagai salah satu hewan yang mempunyai bentuk yang cantik, anggun, gemulai dan bersahabat dialam, menjadikan ikan ini sangat dekat dengan beberapa penyelam.  Keberadaan ikan ini dibeberapa daerah penyelaman menjadikan  pengalaman tersendiri yang tak terlupakan bagi para penyelam. Bahkan dibeberapa Negara ada yang menawarkan paket berenang dengan hanya untuk menyaksikan keberadaan beberapa jenis ikan ini dialam.

Ini merupakan investasi alam yang sangat berharga untuk jangka panjang. Sebagian besar masyarakat kita tidak mengerti akan keberadaan hewan ini bahkan ironisnya dibeberapa tempat, ikan ini diburu untuk disantap menjadi makanan keseharian mereka.

Minimnya kesadaran akan beberapa jenis hewan yang semakin berkurang dialam menjadikan mereka seakan tidak perduli dengan hewan ini.

Untuk itu akan sangat diharapkan peran dari semua pihak untuk bersama-sama menjaga keberadaan hewan dan ikan-ikan yang dilindungi.

Kita sangat mengharapkan peran pemerintah untuk lebih tegas dalam mengawasi dan melarang perdagangan hewan ini, pertisipasi semua pihak untuk menjaga keberadaan ikan ini dialam.

Akan sangat indah bagi kita jika saat melakukan perjalanan kedaerah-daerah pantai dekat karang menyaksikan ikan ini berenang dengan gemulai dan indah atau suatu saat anda mempunyai kesempatan untuk snorkling atau diving didaerah sekitar karang menemukan ikan ini berenang bebas bersama anda karena sifat yang bersahabat dari ikan ini. 

Dengan tidak memburunya dialam dan membiarkannya tetap hidup dan berkembang biak dialam kita sudah berperan sangat besar dalam menjaga ikan ini. Kita tidak akan berharapa kalau ikan ini hanya tertempel didinding sebagai suatu gambar atau poster yang dengan catatan “Ikan ini Pernah ada diperaiarn Indonesia”.

 

Akan sangat mungkin untuk melakukan upaya restoking bagi beberapa hewan dan ikan seperti Napoleon dialam. Tentunya peluang untuk membuat tempat perkembangbiakan ikan ini pada suatu kawasan bahkan tempat tertentu merupakan salah satu jalan keluar yang mungkin dapat dilakukan. Tentunya dengan kepedualian dan perhatian dari berbagai pihak terutama pemerintah.

 

Sebagian foto diambil dari: divetrip.com, pbs.org., www. timsaxon.co.uk.

Strategi penyelamatan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut

Posted on

(Ma’ruf Kasim, PhD)

 

Sumberdaya pesisir dan laut menyimpan potensi yang sangat strategis dalam peningkatan pembangunan kawasan timur Indonesia.  Namun demikian, pemanfaatan sumberdaya tersebut belum menunjukkan adanya suatu keseriusan upaya yang optimal dan lestari. Banyaknya ekosistem yang berada didaerah pantai menggambarkan betapa tingginya daya dukung lingkungan pesisir dan laut  terhadap kehidupan masyarakat.  Peningkatan pertumbuhan masyarakat pesisir yang sangat signifikan mendorong upaya pemanfaatan sumberdaya pesisir begitu tinggi dan menyisakan degradasi yang mulai parah.

Beberapa kegiatan yang dapat merusak sumberdaya pesisir dan laut diantaranya :

Q         Kegiatan reklamasi pantai  dapat membunuh jutaan bibit ikan dan hewan laut ekonomis sebagai akibat penimbunan ekosistem lamun. Ekosistem lamun merupakan daerah pembesaran bagi ikan-ikan kecil dan hewan laut lainnya karena menyimpan berjuta makanan yang sangat sesuai untuk ikan-ikan kecil dan hewan ekonomis lainnya.

Q         Konversi Hutan mangrove sebagai lokasi pertambakan dan lokasi pemukiman mendorong degradasi hutam mangrove hingga ribuan  hektar di seluruh kawasan Timur Indonesia.

Q         Penggunaan Bom dan bahan beraruc seperti Cianida sampai tahun 2007 telah menyisakan kerusakan terumbu karang hingga mencapai 70 % dari total luasan terumbu karang Indonesia umunya dan Kawasan Timur Indonesia khususnya.

 

Sangat disadari bahwa pembangunan pasti akan menjadikan lingkungan sebagai tumbal yang harus dikorbankan, Namun demikian juga harus disadari bahwa perlu kearifan yang lebih bijaksana untuk memberikan kompensasi pada lingkungan sebagai hasil kerja pembangunan yang terus meningkat. 

Pertanyaannya, siapakan yang harus membayar kompensasi tersebut. Apakah masyarakat, Pemerintah, atau swasta.

Secara bijak dapat kita  katakan bahwa seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan swasta bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan, tinggal bagaimana keterlibatan semua pihak untuk saling dukung dalam memberikan sumbangsih bagi kompensasi tersebut.

 

Seberapa besar dan bagaimana wujud kompensasi tersebut , sangat tergantung pada kondisi rill yang terjadi termasuk kondisi topografi daerah masing-masing.  Spesifikasi tersebut dipengaruhi  oleh jenis ekosistem yang terdegradasi dan seberapa besar tekanan terhadap sumberdaya yang ada.

 

Adanya perusakan lingkungan untuk reklamasi pantai yang menutupi ratusan hektar habitat lamun dan atau degradasi hutan mangrove, diharapkan adanya upaya transplantasi lamun pada beberapa lokasi yang menurut kajian ilmiah dapat dilakukan dan atau melakukan rehabilitasi dan konservasi hutan mangrove  pada lokasi yang berbeda.

 

Peran masyarakat  sangat strategis dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya pesisir dan laut. Wujud rill dari kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan tidak tumbuh dengan sendirinya. Namun perlu upaya dari stake holder lain dalam menumbuhkan kesadaran tersebut. Sebagiam besar masyarakat pesisir telah terbiasa  dengan pemahaman bahwa ikan dilaut tidak akan habis. mereka menganggap bahwa laut menyimpan sumberdaya yang tidak akan pernah habis.

Keterbatasan pemikiran semacan ini yang mendorong dilakukannya usaha-usaha exploitasi sumberdaya ikan dan hewan laut dengan alat yang tidak ramah lingkungan.

 

Untuk mengubah pola pikir ini tidak, tidak cukup dengan hanya memberikan penyuluhan yang bersifat instant dan ataupun program pemberdayaan yang bersifat musiman.

Dorongan yang terkuat dari adanya tindakan perusakan lingkungan adalah kesejahteraan masyarakat itu sendiri.  Masyarakat pesisir butuh peningkatan pendapatan untuk pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari. Untuk itu perlu pendekatan yang permanen sampai pada batas waktu dimana kesejahteraan masyarakat dapat di tingkatkan atau paling tidak adanya mata pencaharian alternative untuk membiayai kehidupan sehari-hari mereka tanpa harus merusak lingkungan. Indikator perubahan tersebut dapat dilihat dari jumlah masyarakat yang beralih profesi dari menangkap ikan menjadi petani ikan atau membudidayakan ikan dan non ikan seperti rumput laut.

 

Sebagian besar masyarakat pesisir sulit untuk menerima masukan yang sifatnya hanya penyuluhan semata tanpa dibarengi dengan intensitas pemberian yang terus menerus. Untuk itu pendekatan strategis yang dapat dilakukan untuk dapat memberikan perubahan pemahaman bagi masyarakat pesisir  adalah dengan pendekatan cultural yang benar-banar berbasis pada kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini yang sementara dan terus dikembangkan oleh Progran Coremap kabupaten Buton didaerah-daerah pesisir kabupaten Buton. Disamping itu juga untuk menumbuhkan rasa kecintaan yang lebih kuat dimasyarakat dibentuk lembaga-lembaga tingkat desa yang diprakarsai oleh masyarakat itu sendiri yang bertujuan untuk menjaga Terumbu karang sebagai salah satu habitat sangat penting di daerah mereka. 

 

Hal yang perlu dipertimbangkan adalah adanya fasilitator pemberdayaan masyarakat yang menetap dan paling tidak terus memfasilitasi masyarakat untuk mengadakan upaya-upaya perlindungan sumberdaya tingkat desa.

Dukungan motivator tingkat desa juga dapat dibentuk agar dapat memberikan pemahaman yang secara terus menerus di tingkat desa. Penempatan motivator desa yang berasal dari desa tersebut, dipercaya dapat memberikan pendekatan dan motivasi  terus menerus kepada masyarakat desa.

 

Kegiatan strategis yang dapat dikembangkan ditingkat desa dalam rangka perlindungan sumberdaya alam khususnya sumberdaya pesisir dan laut adalah pembentukan daerah perlindungan laut (DPL), yang ditunjang dengan pembuatan Peraturan desa (Perdes). Ini dapat   memberikan kepastian hukum tentang pengelolaan sumberdaya alam khsusnya pesisir dan laut bagi masyarakat desa.  Penyusunan DPL dan Perdes dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat yang juga aturan tiap butir pelanggaran ditetapkan bersama dengan difasilitasi oleh motivator tingkat desa akan memberikan solusi terbaik pagi penjagaan sebagian kawasan pesisir. 

 

Disamping itu menumbuhkan potensi kearifan lokal dibeberapa daerah dapat menjawab keberlasungan pemanfaatan sumberdaya.  Masyarakat akan didorong untuk memanfaatkan sumberdaya secara arif dan bijaksana sehingga keberlangsungan sumberdaya pesisir dan laut dapat terus berlangsung.

Mengenal Pola Rehabilitasi Mangrove Partisipative

Posted on Updated on

 

Hutan mangrove di kawasan Kawasan Pesisir umumnya didominasi oleh beberapa jenis diantaranya; Rhizophora spp., (Rhizophora apiculata, R. Mucronata, R. stylosa dll) , Soneratia spp (Sonneratia caseolaris, Soneratia alba, dll), Avicennia alba, Bruguiera spp, Aegiceras corniculat, Nypa fruticans, ,Cerbera spp., Xylocarpus spp., Lumnitzera racemosa, Heritiera littoralis dan Excoecaria agallocha.

Jika dilihat dari segi zonasinya, jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.). Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

 

Tahapan yang dapat dilihat secara praktisi adalah :

1.   Survei dan Penetapan lokasi penanaman

Kegiatan survei lapangan dapat melibatkan beberapa orang yang mengenal dengan dekat lokasi yang akan menjadi sasaran kegiatan penanaman.  Pada kegiatan ini di lakukan upaya identifikasi jenis-jenis mangrove yang ada, karakteristik substrat serta kondisi rill hutan mangrove. 

Tipe substrat didominasi oleh tipe substrat berlumpur dan dibeberapa tempat ditemukan substrate berpasir dan kadang bercampur cangkang bivalvi dan gastropoda mati. 

Bahkan yang lebih ekstrin di Kawasan Pesisir teluk lasongko Indonesia terdapat mangrove yang tumbuh diatas batuan cadas.

Mengingat lokasi yang akan di jadikan sasaran rehabilitasi terdapat di dalam kawasan hutan mangrove, maka kondisi rill yang akan menjadi pertimbangan utama adalah jenis mangrove yang sesui untuk ditanam sesuai dengan karakteristik dan tipe subrat berlumpur, berpasir, lumpur berpasir, dan atau bercampur kerang-kerangan mati.  Karakteristik spesifik dibeberapa tempat juga adanya aliran-aliran kecil sungai yang menjurus keteluk.  Tentunya jika ada yang kondisinya seperti ini, upaya rehabilitasi sedapatnya tidak di lakukan pada daerah aliran sungai–sungai kecil karena hanya akan mengalami kegagalan. 

 

2.    Persemaian dan Pembibitan Mangrove .

Pengumpulan bibit sebaiknya dilakukan oleh kelompok yang dibentuk didesa.  Jenis bibit yang akan di jadikan bibit adalah yang dominan berada di sekitar areal rehabilitasi.  Pertimbangan yang lain adalah dengan melihat struktur tanah dan ekologi kawasan rehabilitasi.   Jenis Rhizophora mucronata adalah jenis bibit yang mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap tekanan ekologi.  Untuk meningkatkan presentase kelangsungan hidup penanaman mangrove, dilakukan upaya persemaian untuk bibit yang akan di tanam.  Persemaian di lakukan disekitar areal penanaman. Ini untuk memudahkan akses penanaman. 

Upaya pembibitan dilakukan dengan memasukkan bibit kedalam polibag dan setelah di isi didalam polibag diletakkan di dalam areal pembibitan.  Untuk menghindari terhadap gangguan babi hutan yang sering mencari makan dan menggali makanan disekitar areal persemaian dan pembibitan, tempat pembibitan dilindungi dengan waring yang menghalang aktivitas babi hutan masuk kedalam areal pembibitan.

Upaya persemaian dan pembibitan dilakukan 1 – 3 bulan sebelum penanaman.  Ini dilakukan agar bibit dapat berkecambah dulu untuk kemudian di lakukan penanaman.  Upaya ini diharapkan akan meminimalisasi kematian bibit dan meningkatkan persentase bibit yang hidup.

 

3. Penanaman. 

Setelah bibit mulai tumbuh didalam areal pembibitan, dilakukan upaya penanaman pada areal rehabilitasi.  Upaya ini melibatkan seluruh anggota kelompok yang memobilisasi anggota masyarakat yang peduli tentang pentingnya upaya rehabilitasi mangrove.  Upaya penanaman dilakukan dengan sangat hati-hati.  Bibit yang telah tumbuh di areal pembibitan dibawa ke areal penanaman.  Setelah sampai pada daerah dekat tempat penanaman, polibagnya disobek kemudian dilakukan penggalian lubang pada areal penanaman dan dimasukkan bibit beserta tanah/lumpur kedalam lubang penanaman mangrove.  Untuk menghindari tumbangnya bibit karena tekanan arus pasang dan atau pengaruh ombak/gelombang, tiap bibit mangrove diikat pada ajir yang dipatok didekat mangrove.  Ajir ini sengaja diletakkan di samping setiap bibit yang ditanam mengingat tiap bibit yang akan ditanam belum terlalu kuat untuk menopang dirinya dan atau untuk tetap berdiri karena belum mempunyai akar yang kuat.

Pada daerah yang mempunyai potensi gelombang yang cukup tinggi, sebaiknya dilakukan pemasangan APO / APO Barlapis yang terbuat dari kayu. Bambu dan bahkan batu dan coran semen.  APO berfungsi sebagai peredam ombak sehingga pengaruhnya tidak dapat mempengaruhi bibit mangrove.

Pola penanaman bibit mangrove dilakukan dengan jarak satu meter antara bibit yang satu dengan yang lainnya. Penanaman bibit dilakukan serempak dengan melibatkan seluruh anggota kelompok.  Sedapat mungkin melibatkan anak sekolah agar terjadi pembelajaran yang mendasar tentang pola merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. Pelajaran yang paling berharga dalam upaya rehabilitasi bagi pelajar jika pelibatan langsung kepada mereka. Ini akan membekas dalam pikiran dan hati mereka untuk mengetahui pola rehabilitasi mangrove. Dan tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan sendiri pada kawasan yang lain sebagai bagian dari upaya kokurikuler mereka. 

Pada beberapa daerah yang sangat ekstrim dengan pola pasang surut yang sangat lebar, sebaiknya jangan dilakukan pola penanaman yang konvensional.  Pola penanaman konvensional biasanya hanya penancapan bibit yang dibarengai dengan pengikatan pada ajir.  Namun sebaiknya menggunakan modifikasi pada sistem persemaian.  Modifikasi persemaian dapat dilakukan pada polibag bambu dan atau pot yang didisain khusus.  Bentuk polibag dapay dilakukan dengan panajaman pada bagian bawah yang juga berfungsi sebagai pasak untuk tiap bibit. Modifikasi juga dapat dipadu dengan pengikatan pada ajir berlapis untuk memperkokoh dudukan bibit.

Yang perlu mendapat perhatian adalah bukan seberapa banyak bibit yang kita dapat tanam tapi seberapa banyak bibit yang bisa bertahan hidup dengan kondisi lokasi yang kadang bersifat ekstrim.

 

 

5.   Pemeliharaan.

Pola pemeliharaan sebaiknya melibatkan seluruh anggota kelompok dengan menjaga tiap kaplingan areal penanaman. Tiap anggota masyarakat dipercayakan untuk menyulam tiap bibit mangrove yang kebetulan rusak atau tercabut oleh aktivitas arus dan gelombang. Untuk mengontrol kelangsungan hidup tiap bibit dan anakan mangrove, sebaiknya dilakukan pengontrolan setiap 3-4 hari sekali sampai pada saat bibit mangrove yang ditanam berusia 3 – 5 bulan. Selanjutnya dilakukan pengontrolan seminggi sekali selama 10 -12 bulan.  Setelah diatas satu tahun dapat dilakukan pengontrolan selama 1 – 2 kali sebulan.

Pemeliharaan mangrove adalah hal penting yang perlu dilakukan untuk menjaga agar mangrove tetap hidup dan bertahan dengan baik.

Komplesitasnya kondisi fisik dan ekologis lingkungan serta kadang adanya hama dan gangguan lain membuat mangrove kadang mengalami kematian walaupun umur mangrove telag berusia diatas 8 – 12 bulan,  namun jika dilakukan pengontrolan yang rutin maka akan dapat meminimalisasi kegagalan yang ada.

 

 

Trik Rehabilitasi mangrove.

1.    Kenali daerah yang akan direhabilitasi.

2.    Kenali faktor fisik (pasang surut, pola arus, kecepatan arus, tipe substrate, gelombang), biologi (hama, jenis mangrove yang dominan, ketahanan tiap bibit, penyakit buah mangrove, gulma, epifauna) dan kimia (pH substrat, kandungan unsure hara)  daerah yang akan direhabilitasi.

3.    Lakukan persemaian dengan waktu yang dikondisikan berdasarkan jenis bibit.

4.    Lakukan pemeliharaan dengan pelibatan masyarakat setempat.

5.    Tentukan pola penanaman yang sesuai dengan bibit dan areal penanaman.

6.    Sebaiknya mengambil bibit yang bersumber pada areal terdekat.

7.    Sebaiknya menanam mangrove pada lokasi yang paling tidak pernah ditumbuhi oleh mangrove.

Dugong di Temukan di Desa Coremap Kabupaten Buton

Posted on Updated on

Oleh : Ma’ruf Kasim.

Dugong umumnya bermigrasi pada tempat-tempat tertentu untuk mencari makan dan menyebar pada daerah-daerah tropis dunia (lihat penjelasan tentang Konservasi Dugong di web ini).  Penyebaran dugong ini umumnya sangat tergantung pada lingkungan perairan dan terutama sumber makanan yang berupa habitat alami beberapa jenis seagrass seperti Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp yang merupakan makanan alami dugong.  Atau kita sering menemukan dugong pada lingkungan perairan yang terlindung dari ombak dan arus yang kuat.

 

Di Indonesia sendiri, populasi dugong sangat sedikit.  Dilaporkan tahun 1970 populasi dugong mencapai 10.000 ekor dan tahun 1994 di perkirakan popluasinya hanya sekitar 1000 ekor. Penyebaran dugong di Indonesia laporkan berada di kawasan timur Indonesia mencakup Sulawesi (Buton, Bunaken, Wakatobi Takabonerate), Nusa Tenggara Timur (Sumba, Lembata, pulau Flores, Teluk Kupang Kepulauan Komodo), Maluku Pulau Aru Pulau Lease seram dan Halmahera) Perairan papua (Pulau Biak, sorong dan Fakfak) dan sebagian kecil pada perairan Sumatra (Riau, Bangka dan Pulau Belitung), Jawa (ujung Kulon, pantai Cilacap, Cilegon, labuhan dan Segara Anakan) dan Bali. Informasi tentang keberadaan dugong hanya di peroleh dari beberapa nelayan yang kebetulan secara tidak sengaja menangkap atau melihat dugong itu sendiri.

Penyebaran dugong lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan habitat lamun yang merupakan makanan utama mereka disamping topografi dan ketenangan daerah. Pada saat pasang dugong biasanya active mencari makan dan berenang dipinggir pantai bersama anaknya. Aktivitas mencari makan biasanya dilakukan dengan berenang kedasar dan memakan seagrass dengan cara bergerak kearah belakang. Beberapa ilustrasi yang terlihat dari bekas grazing dugong adalah dugong memakan hamper seluruh bagian dari lamun termasuk daun batang dan rizom.

Dugong hanya memakan lamun, itupun hanya beberapa jenis di antaranya  Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp. Dan beberapa jenis lamun yang berdaun lunak Sementara penyebaran lamun ini hanya ada pada kawasan-kawasan tertentu, yang saat sekarang pun telah terjadi pengrusakan dan degradasi yang cukup serius.  Tanpa lamun dugong akan kehilangan makanan dan ini akan berdampak pada penurunan populasi dugong itu sendiri.

Kurangnya populasi dugong disebabkan oleh beberapa factor diantaranya ; telah mulai berkurangnya habitat lamun yang merupakan makanan utama dari dugong.

Disamping itu masih maraknya perburuan dugong oleh sebagian besar masyarakat bajo yang menjadikan Dugong sebagai santapan yang lezat pengganti daging, sangat mempengaruhi populasi dugong. 

Pada bulan april 2005 dilaporkan ditemukan dugong di perairan kecamatan siontapina yang merupakan desa Coremap II Buton. Kemudian pada bulan  Juni 2007 di temukan Kecamatan Siontapina Kabupaten buton Sulawesi tenggara. Dan yang terakhir pada bulan Maret 2008, lagi ditemukan di perairan desa Lasalimu Pantai (Desa Coremap II) Kecamatan lasalimu kabupaten Buton. Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tertangkapnya dugong tersebut karena terperangkap kedalam sero masyarakat. Diperkiraan Jumlah populasi Dugong masih ada beberapa yang hidup diperairan Kabupaten Buton walaupun populasinya diperkirakan tidak lebih dari 20 ekor. 

Setiap dugong yang tertangkap biasanya dilepaskan dan atau di simpan didalam karamba untuk sementara sebelum dilepas kelaut.  Pola pikir tentang penyelamatan lingkungan dan sumberdaya laut terutama spesies langka yang ada di laut seperti dugong,  sudah terbangun dikalangan masyarakat, khususnya setelah adanya program Coremap di Desa tersebut.

 

Kawasan Perairan Timur Indonesia adalah kawasan potensial untuk menjaga keberlangsungan kehidupan digong di Indonesia. Hal ini karena masih adanya beberapa daerah yang mempunyai habitat lamun yang masih terjaga.  Untuk itu akan sangat diharapkan peran semua pihak khususnya masyarakat pesisir  kawasan timur Indonesia untuk dapat bersama sama menjaga keberlangsungan dugong sebagai salah satu hawan langka patut untuk dilindungi bersama.