Kenali Padang Lamun untuk di Lindungi

Posted on Updated on

Oleh Ma’ruf Kasim 

Jika anda ingin mengetahui satu di antara tempat terunik, hijau dan indah di dasar perairan atau jika anda ingin tempat makan mamalia laut langka seperti duyung dan manate, silahkan bersnorkel ria di sekitar padang lamun (seagrass). Duyung atau dikenal dengan nama dugong (Dugong dugong, muller 1776) dan manate (Trichechus manatus) adalah mamalia laut yang hanya mengkonsumsi daun lamun sebagai makanan utama mereka.  Namun tidak semua lamun merupakan makanan favorite duyung dan manate. Hanya beberapa jenis lamun yang ukurannya pendek dan kecil seperti Halodule sp. Halophile sp. dan Syringodium sp. yang merupakan makanan favorite duyung.  De Iongh et al. (1995) melaporkan jenis lamun Halodule uninervis merupakan makanan utama bagi dugong di perairan timur Ambon. Penelitian lain di perairan Sulawesi Selatan lebih memfokuskan bahwa duyung tidak hanya memakan daun lamun tapi juga rizom dan akar lamun yang merupakan sumber nutrisi utama bagi duyung (Erftemeijer et al., 1993).  Dewasa ini teramat sangat sulit melihat duyung sedang makan di tempat alaminya di sekitar padang lamun. Ini karena populasi duyung terutama di Indonesia sudah sangat kecil sekali, kita hanya sesekali pernah mendengar nelayan melihat duyung berenang di sekitar perairan Sulawesi, Irian dan Maluku.

Hal menarik yang dapat kita lihat bahwa padang lamun atau yang di kenal dengan seagrass bukan hanya sebagai tempat mencari makan bagi duyung dan manate tapi juga tempat hidup yang sangat cocok bagi beberapa organisma kecil seperti udang dan ikan. Bahkan penyu hijau (Chelonia mydas) pun sering mengunjungi padang lamun untuk mencari makan.  Lantas mengapa padang lamun bisa menjadi tempat yang cocok bagi umumnya hewan kecil ?.  Kondisi lamun yang menyerupai padang rumput di daratan ini mempunyai beberapa fungsi ekologis yang sangat potensial berupa perlindungan bagi ivertebrata dan ikan kecil.  Daun-daun lamun yang padat dan saling berdekatan dapat meredam gerak arus, gelombang dan arus materi organik yang memungkinkan padang lamun merupakan kawasan lebih tenang dengan produktifitas tertinggi di lingkungan pantai di samping terumbu karang.  Melambatnya pola arus dalam padang lamun memberi kondisi alami yang sangat di senangi oleh ikan-ikan kecil dan invertebrata kecil seperti beberapa jenis udang, kuda laut, bivalve, gastropoda dan echinodermata.  Hal terpenting lainnya adalah daun-daun lamun berasosiasi dengan alga kecil yang dikenal dengan epiphyte yang merupakan sumber makanan terpenting bagi hewan-hewan kecil tadi.  Epiphyte ini dapat tumbuh sangat subur dengan melekat pada permukaan daun lamun dan sangat di senangi oleh udang-udang kecil dan beberapa jenis ikan-ikan kecil.  Disamping itu padang lamun juga dapat melindungi hewan-hewan kecil tadi dari serangan predator.   Sangat khas memang pola kehidupan hewan-hewan kecil ini di padang lamun yang tidak jarang memberikan konstribusi besar bagi kelangsungan ikan dan udang ekonomis penting.  Ini adalah sebagian kecil dari peran penting padang lamun yang menyebar di sekitar perairan pantai Indonesia. 

Padang lamun menyebar hampir di seluruh kawasan perairan pantai Indonesia.  Anda akan sangat mudah mengenali tumbuhan ini.  Padang lamun biasanya sangat mirip dan bahkan menyerupai padang rumput di daratan dan hidup pada kedalaman yang relative dangkal (1-10 meter) kecuali beberapa jenis seperti Halodule sp., Syringodium sp. dan Thalassodendrum sp., yang juga di temukan pada kedalaman sampai dengan 20 meter dengan penetrasi cahaya yang relative rendah. Malah pernah dilaporkan jenis Halophila yang di temukan pada kedalaman 90 meter oleh Taylor (1928) yang ditulis dalam Den Hartog (1970).  Namun umumnya sebagian besar padang lamun menyebar pada kedalaman 1 – 10 meter. Di beberapa perairan dangkal, kita dapat menyaksikan padang lamun dengan kepadatan yang cukup tinggi yang memberikan kesan hijau pada dasar perairan. 

Untuk tipe perairan tropis seperti Indonesia, padang lamun lebih dominant tumbuh dengan koloni beberapa jenis (mix species) pada suatu kawasan tertentu yang berbeda dengan kawasan temperate atau daerah dingin yang kebanyakan di dominasi oleh satu jenis lamun (single species).  Penyebaran lamun memang sangat bervariasi tergantung pada topografi pantai dan pola pasang surut.  Anda bisa saja menjumpai lamun yang terekspose oleh sinar matahari saat surut di beberapa pantai atau melihat bentangan hijau yang didalamnya banyak ikan-ikan kecil saat pasang.  Jenisnya pun beraneka ragam, yang di pantai Indonesia sendiri, kita bisa menjumpai 12 jenis lamun dari sekitar 63 jenis lamun di dunia dengan dominasi beberape jenis diantaranya Enhalus acoroides, Cymodocea spp, Halodule spp., Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, Thallasia hemprichii and Thalassodendron ciliatum. Dan saya percaya kawasan perairan Indonesia yang sangat luas mempunyai jenis lamun yang lebih dari perkiraan beberapa lembaga penelitian.  Sampai kini konsentrasi penelitian terhadap jenis-jenis lamun dan ekosistem lamun belum sepenuhnya terlaksana. Kurangnya minat beberapa peneliti untuk lebih fokus kearah padang lamun dan minimnya dana penelitian yang di alokasikan ke sektor ini serta minimnya publikasi mengenai padang lamun merupakan penghambat utama bagi pengetahuan dan pemahaman tentang padang lamun kepada masyarakat sementara masyarakat sebagian besar belum sepenuhnya tahu dan mengerti tentang habitat yang satu ini.  Padahal kalau mau jujur masysrakat pantai khususnya banyak sekali tergantung pada habitat ini, yang langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi terhadap kebutuhan sehari-hari mereka.  Kita mungkin tidak menyadari kalau menurunnya produksi beberapa jenis ikan-ikan dan udang-udang pantai ekonomis Indonesia lebih banyak karenakan semakin menipisnya padang lamun yang merupakan habitat alami dari ikan-ikan pantai seperti ikan berinang (Siganus spp.) atau beberapa udang putih (Penaeus spp.) lainnya.

Terlalu jauh kalau kita mengharapkan bisa sering melihat dugong bermain kembali di sekitar pantai Indonesia, yang padang lamunnya seudah semakin memprihatinkan, oleh pola reklamasi pantai yang sangat marak dan degradasi pantai yang sudah sangat ramai. Namun mungkin kita masih bisa melihat beberapa jenis ikan-ikan kecil bermain dengan cantiknya dibeberapa pantai yang masih terjaga padang lamunnya (© Ma’ruf Kasim). 

Advertisements

31 thoughts on “Kenali Padang Lamun untuk di Lindungi

    supriyanto said:
    May 8, 2006 at 10:45 pm

    saya sedang mempelajari lingkungan pesisir.
    Ekosistem pesisir sangat menarik untuk dilihat, keanekaragamnya sangat menakjubkan dan perlu dilindungi .

    Shelly Tutupoho said:
    February 26, 2007 at 12:39 pm

    saya hanya ingin meralat sedikit. dalam tulisan tersebut ada pernyataa bahwa kuda laut termasuk dalam invertebrata kecil yang hidup di padang lamun. yang saya tahu, kuda laut terasuk ikan yang memiliki tulang belakang. jadi kuda laut tidak bisa dikatakan invertebrata. terima kasih.

    Irham Ahmad said:
    March 1, 2007 at 2:19 am

    Saya sedang meneliti tentang gastropoda yang hidup di padang lamun. Namun saya masih kekurangan literatur ataupun informasi ttg padang lamun itu, boleh ya saya dibantu untuk mendapatkan informasi yang saya maksudkan.

    iwan kader said:
    April 24, 2007 at 3:46 am

    saya adalah seorang dosen yang bercita-cita menjadi ahli lamun (sea Grass)

    !wO~ said:
    June 19, 2007 at 4:12 am

    Memang menarik kalau kita masih bisa melihat ikan duyung bergerak kesana kemari di padang lamun-padang lamun yang ada di Indonesia, tapi tidak aneh juga kalau kita tidak bisa melihat ikan duyung-ikan duyung itu lagi karena kita sendiri tahu kalau lautan kita sedang terancam oleh ulah manusia itu sendiri, terutama dilaut jawa. Oleh karena itu demi kelestarian mereka dan juga tempat tinggalnya, pemerintah harus membuat peraturan yang benar-benar bisa dipatuhi masyarakat bila perlu berikan sanksi yang berat kepada mereka yang melanggar. Karena ini semua demi kelestarian kekayaan hayati bangsa Indonesia.

    ratnasarie said:
    June 28, 2007 at 2:56 am

    saya pengen banget ngeliat ikan duyung walaupun saya harus menyelam ke laut,karna dari dulu cita2 saya jadi penyelam. Please, ajak2 kalo ada yg mau nyelam

    beni mandos said:
    July 5, 2007 at 2:40 am

    saya mahasiswa yang mau melakukan penelitian gastropoda yang berasasosiasi pada ekosistem padang lamun, tapi saya masih kekurangan literatur. apakah saya boleh dibantu????? terimakasih

    Anna S kartika said:
    July 5, 2007 at 4:43 am

    Saya sangat tertarik dengan tulisan Bapak. Kebetulan tempat kerja kami di bagian konservasi laut dan lahan basah, Dep kehutanan dimana sering mengadakan pembinaan di UPT Balai KSDA dan Balai TN yang memiliki laut. Beberapa kawasan konservasi laut memiliki ekosistem padang lamun yang merupakan habitat dugong, penyu hijau dan kuda laut. Kami berkeinginan untuk menjadikan lokasi tersebut sebagai salah satu atraksi wisata ( melihat behavior penyu hijau, duyung dan kuda laut) di padang lamun. Selain itu saya berkeinginan menulis leaflet tentang rehabilitasi lamun yang sesuai dengan kaidah konservasi sesuai dengan fungsi masing kawasan konservasi laut ( Cagar Alam, Suaka MargasatwaTaman Nasional, Taman wisata, Karena itu saya sangat senang dapat bertukar pikiran dan berdiskusi dengan Bapak,. Atas kesediannya kami ucapkan terima kasih

    pardi said:
    July 7, 2007 at 1:55 pm

    saya sedang meneliti tentang distribusi spasial dari makrozoobenthos secara umum khususnya ekoistem padang lamun, namun saya masih kekurangan referensi tentang parameter lingkungan yang berhubungan dengan pertumbuhan makrozoobenthos

    malla said:
    August 2, 2007 at 9:36 am

    saya harap dapat berdiskusi lebih jauh dengan bapak terutama ttg kawasan pesisir , kami perlukan untuk pengembangan pusat pendidikan lingkungan hidup di riau kepulauan yg merupakan daerah pesisir dgn 95% lautan. salut!

    Dee said:
    August 26, 2007 at 1:14 am

    saya adalah mahasiswi yg sedang mengerjakan tugas akhir tentang lamun. maukah anda membantu saya mendapatkan literatur yang lebih banyak lagi tentang lamun? tanks b4 n after 🙂

    mulyono malik said:
    October 11, 2007 at 7:23 am

    saya tertarik dengan tulisan bapak tentang padang lamun, saya ingin informasi tentang eksploitasi padang lamun atau konversi padang lamun dan dampaknya bagi lingkungan. Thanks !!!

    riskan said:
    January 14, 2008 at 7:32 am

    da informasi mengenai daerah konservasi mengenai padang lamun di Indonesia g??

    effi athfiyani thaib said:
    March 4, 2008 at 4:29 am

    Assalamualaikum
    Saya pengajar di Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta. tahun 2005 meneliti ikan beronang (Siganus canaliculatus) di Bojonegara Teluk Banten. Padang lamun dulu pada ahun 80 an merupakan habitat ikan beronang sekarang tinggal kenangan. Warnanya coklat dan sudah sangat jarang. Sepertinya pengembangan wilayah pesisir telah membawa petaka bagi padang lamun di Bojonegara, dengan sendirinya juga akan berpengaruh pada biota di sini.
    mari kita selamatkan. Salut buat Bapak Maruf.

    andi said:
    April 8, 2008 at 11:58 am

    mas…
    bisa minta literatur tentang penyu, dan habitatnya gak…
    aku lagi mengadakan penelitian disukamade ne..
    terima kasih…

    prie said:
    April 29, 2008 at 1:48 pm

    Informasi dari P. Bintan Kepulauan Riau ditemukan 10 species dari 12 yang ada di Indonesia termasuk Halophila spinulosa dan berdasarkan laporan dari masyarakat, mereka kadang-kadang mendapatkan dugong tanpa sengaja di jaring dan terakhir awal tahun 2008 sempat mendapati dugong dengan berat kurang lebih 100 kg terperangkap dalam jaring. saat ini kita sedang menangani kegiatan konservasi padang lamun di P. Bintan bersama dg LIPI dan UNEP-GEF.

    Alven said:
    May 12, 2008 at 9:05 am

    Pak, Saya mohon bantuan literaturnya tentang lamun (klasifikasi lamun) dan kondisi substrat pantai berpasir dan berlumpu di padang lamun. Saya sekarang lagi skripsi jadi saya sangat membutuhkannya. saya sudah cari ke toko tapi tidak lengkap. Mohon bantuannya yaa. Pak. Terima kasih

    suratman said:
    May 27, 2008 at 2:45 pm

    terima kasih atas bantua anda, saya sedang mempelajari beberbagai ekosistem laut.

    wian said:
    June 5, 2008 at 3:16 am

    saya mau literatur tentang klasifikasi padang lamun

    alin said:
    July 3, 2008 at 5:38 am

    Ass….
    Mas, sy kan sdng pnelitian yg berhubungan dgn lamun. Btw, bs ga ksh informasi mengenai komunitas ikan yang tedapat di padang lamun.
    Trmakasih sblmnya….

      Anonymous said:
      October 29, 2010 at 1:08 pm

      cari ja sendiri.. emg kta tdak tau mmbacakah..!!
      mkasih…!!

    Maruf said:
    July 14, 2008 at 4:05 am

    Terima kasih atas responnya
    bg yang ingin serius menyingkapi lamun di Indoensia atau butuh literatur sila ke email marufkasim@yahoo.com

    salam

    anYitzzzz said:
    September 24, 2008 at 11:50 am

    leh : Ma’ruf Kasim.

    Dugong umumnya bermigrasi pada tempat-tempat tertentu untuk mencari makan dan menyebar pada daerah-daerah tropis dunia (lihat penjelasan tentang Konservasi Dugong di web ini). Penyebaran dugong ini umumnya sangat tergantung pada lingkungan perairan dan terutama sumber makanan yang berupa habitat alami beberapa jenis seagrass seperti Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp yang merupakan makanan alami dugong. Atau kita sering menemukan dugong pada lingkungan perairan yang terlindung dari ombak dan arus yang kuat.

    Di Indonesia sendiri, populasi dugong sangat sedikit. Dilaporkan tahun 1970 populasi dugong mencapai 10.000 ekor dan tahun 1994 di perkirakan popluasinya hanya sekitar 1000 ekor. Penyebaran dugong di Indonesia laporkan berada di kawasan timur Indonesia mencakup Sulawesi (Buton, Bunaken, Wakatobi Takabonerate), Nusa Tenggara Timur (Sumba, Lembata, pulau Flores, Teluk Kupang Kepulauan Komodo), Maluku Pulau Aru Pulau Lease seram dan Halmahera) Perairan papua (Pulau Biak, sorong dan Fakfak) dan sebagian kecil pada perairan Sumatra (Riau, Bangka dan Pulau Belitung), Jawa (ujung Kulon, pantai Cilacap, Cilegon, labuhan dan Segara Anakan) dan Bali. Informasi tentang keberadaan dugong hanya di peroleh dari beberapa nelayan yang kebetulan secara tidak sengaja menangkap atau melihat dugong itu sendiri.

    Penyebaran dugong lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan habitat lamun yang merupakan makanan utama mereka disamping topografi dan ketenangan daerah. Pada saat pasang dugong biasanya active mencari makan dan berenang dipinggir pantai bersama anaknya. Aktivitas mencari makan biasanya dilakukan dengan berenang kedasar dan memakan seagrass dengan cara bergerak kearah belakang. Beberapa ilustrasi yang terlihat dari bekas grazing dugong adalah dugong memakan hamper seluruh bagian dari lamun termasuk daun batang dan rizom.

    Dugong hanya memakan lamun, itupun hanya beberapa jenis di antaranya  Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp. Dan beberapa jenis lamun yang berdaun lunak Sementara penyebaran lamun ini hanya ada pada kawasan-kawasan tertentu, yang saat sekarang pun telah terjadi pengrusakan dan degradasi yang cukup serius. Tanpa lamun dugong akan kehilangan makanan dan ini akan berdampak pada penurunan populasi dugong itu sendiri.

    Kurangnya populasi dugong disebabkan oleh beberapa factor diantaranya ; telah mulai berkurangnya habitat lamun yang merupakan makanan utama dari dugong.

    Disamping itu masih maraknya perburuan dugong oleh sebagian besar masyarakat bajo yang menjadikan Dugong sebagai santapan yang lezat pengganti daging, sangat mempengaruhi populasi dugong.

    Pada bulan april 2005 dilaporkan ditemukan dugong di perairan kecamatan siontapina yang merupakan desa Coremap II Buton. Kemudian pada bulan Juni 2007 di temukan Kecamatan Siontapina Kabupaten buton Sulawesi tenggara. Dan yang terakhir pada bulan Maret 2008, lagi ditemukan di perairan desa Lasalimu Pantai (Desa Coremap II) Kecamatan lasalimu kabupaten Buton. Provinsi Sulawesi Tenggara.

    Tertangkapnya dugong tersebut karena terperangkap kedalam sero masyarakat. Diperkiraan Jumlah populasi Dugong masih ada beberapa yang hidup diperairan Kabupaten Buton walaupun populasinya diperkirakan tidak lebih dari 20 ekor.

    Setiap dugong yang tertangkap biasanya dilepaskan dan atau di simpan didalam karamba untuk sementara sebelum dilepas kelaut. Pola pikir tentang penyelamatan lingkungan dan sumberdaya laut terutama spesies langka yang ada di laut seperti dugong, sudah terbangun dikalangan masyarakat, khususnya setelah adanya program Coremap di Desa tersebut.

    Kawasan Perairan Timur Indonesia adalah kawasan potensial untuk menjaga keberlangsungan kehidupan digong di Indonesia. Hal ini karena masih adanya beberapa daerah yang mempunyai habitat lamun yang masih terjaga. Untuk itu akan sangat diharapkan peran semua pihak khususnya masyarakat pesisir kawasan timur Indonesia untuk dapat bersama sama menjaga keberlangsungan dugong sebagai salah satu hawan langka patut untuk dilindungi bersama.

    mpi said:
    January 22, 2009 at 12:20 am

    Assalamualaikum…
    Pak Ma’ruf sya mhasiswa yang insyaAllah mau menhambil tugas akhir tentang plankton di sekitar padang lamun di daerah Cilegon,,apkah Bp. punya data plankton yang biasa hidup di sekitar padang lamun??yang insyaAllah sya gunakan untuk kperluan identifikasi,,,trima kasih,,,

    MICHELLE said:
    February 16, 2009 at 1:39 pm

    ada gambar tentang lamun ga?

    cha said:
    March 6, 2009 at 4:58 am

    Saya baru mengenal Padang Lamun ini, sebagai org yg bkn berkecimpung lgsg kedalam bidang lingkungan hidup khususnya SDA pesisir dan laut saya sgt prihatin mendngar bnyak berita ttg reklamasi pantai yg dilakukan dibeberapa daerah di negara kita ini, walaupun Padang Lamun belum seakrab kita dengar dibandingkan dg Hutan Mangrove dan Terumbu Karang, sya berharap Kelestarian Padang Lamun tetap terus ditingkatkan & informasi ttg pdg lamun ini dpt menyebar keseluruh masyarakat.

    ria said:
    July 22, 2009 at 9:07 am

    klo ad saya mw minta gambar-gambar ttg lamun

    ichank said:
    November 4, 2009 at 8:00 am

    yang sering saya dengar dalam dunia rehabilitasi hanya terumbu karang dan mangrove. tapi saya ingin tahu bagaimana cara merehabilitasi lamun dan apa semua jenis lamun dapat direhabilitasi? kalau tidak, jenis-jenis apa saja dan kenapa hanya sebatas jenis-jenis itu saja!

    retno said:
    March 20, 2011 at 1:13 am

    saya ingin bertanya kondisi lamun yang berada dikedalaman diatas 3 meter dimana yach?
    kemaren ke daerha kepulauan seribu kondisi lamun masih berada di kedalaman 2 meter

    Anneke Matulessy said:
    May 30, 2012 at 11:13 pm

    Saya mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang ekowisata lamun.

    Saya sangat membutuhkan informasi umum tentang padang lamun, terkhususnya padang lamun di perairan Propinsi Maluku guna menunjang penelitian saya ini. Selain itu juga, saya berharap lokasi penelitian saya ini dapat dijadikan daerah ekowisata lamun.

    Saya mohon bantuannya!
    Thank’s.

    skypark residences ec said:
    July 26, 2013 at 8:12 pm

    Hello! I’m at work browsing your blog from my new iphone 3gs! Just wanted to say I love reading through your blog and look forward to all your posts! Carry on the excellent work!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s