Oleh : Ma’ruf Kasim 

Sering kita melihat hamparan hijau pada dasar laut di pinggir pantai yangmenyerupai padang rumput yang hijau, yang tidak lain adalah padang lamun atau yang populer dikenal dengan seagrass.  Seagrass adalah tempat hidup bagi amat banyak organisma seperti ikan, kepiting, udang, lobster, seaurchin (bulubabi), dan masih banyak lagi.  Hampir sebagian besar  organisma pantai (ikan, udang, kepiting dll) mempunyai hubungan ekologis dengan habitat lamun. Sebagai habitat yang di tumbuhi berbagai spesies lamun, padang lamun memberikan tempat yang sangat strategis bagi perlindungan ikan-ikan kecil dari “pengejaran” beberapa predator. juga tempat hidup dan mencari makan bagi beberapa jenis udang dan kepiting.

Komunitas lamun dihuni oleh banyak jenis hewan bentik, organisme demersal serta pelagis yang menetap maupun yang tinggal sementara disana. Spesies yang sementara hidup di lamun biasanya adalah juvenil dari sejumlah organisme yang mencari makanan serta perlindungan selama masa kritis dalam siklus hidup mereka, atau mereka mungkin hanya pengunjung yang datang ke padang lamun setiap hari untuk mencari makan. Banyak spesies epibentik  baik yang tinggal menetap maupun tinggal sementara yang bernilai ekonomis, udang dan udang-udangan adalah yang bernilai ekonomis paling tinggi. Asosiasi fauna dengan lamun merupakan salah satu kajian yang paling menarik serta mudah untuk diamati oleh para peneliti Indonesia. Foraminifera bentik merupakan komponen penting pada komunitas lamun, tetapi hanya mendapatkan  sedikit perhatian.  Krustasea yang berasosiasi dengan lamun merupakan komponen penting dari jaring makanan di lamun.  Bentuk krustase infaunal maupun epifunal berhubungan erat dengan produsen primer dan berada pada tingkatan trofik yang lebih tinggi, karena selama masa juvenil dan dewasa mereka merupakan sumber makanan utama bagi berbagai ikan dan invertebrata yang berasosiasi dengan lamun. 

Potunus pelagicus (Kepiting renang) yang hidup dan besar di padang lamun.

Jenis Udang yang menjadikan Lamun sebagai habitat utamanya

Crustasea predator yang berasosiasi dengan padang lamun umumnya berada pada kondisi alami.  

Padang lamun juga merupakan habitat kritis bagi juvenil Portunus pelagicus, spesies yang bernilai ekonomis.  Famili ini (Portunidae), memiliki lima pasang kaki yang beradaptasi untuk berenang, hal ini unik karena sebagian besar kepiting tidak dapat berenang.  Kepiting dan beberapa crustacea lainnya menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan mengubur diri dibawah permukaan substrat, dimana mereka mengintai untuk menyergap ikan atau invertebrata yang lewat; tergolong spesies yang sangat agresif. Bagaimanapun, banyak spesies ikan yang dimangsa oleh mereka. Umunya Kepiting Jantan lebih besar daripada betina, mereka mempunyai kebiasaan kawin unik, dimana mereka juga berbagi dengan Cacridae. 

Asosiasi sejumlah udang penaeid dengan padang lamun selama periode tertentu dari siklus hidup mereka diperlihatkan dengan baik.

Moluska adalah salah satu kelompok makroinvertebrata yang paling banyak diketahui berasosiasi dengan lamun di Indonesia, dan mungkin yang paling banyak dieksploitasi. 

Hewan Echinodermata adalah komponen komunitas bentik di lamun yang lebih menarik dan lebih memiliki nilai ekonomi. Lima kelas echinodermata ditemukan pada ekosistem lamun di Indonesia.

Beberapa jenis echinodermata diantaranya : Holothuroidea (timun laut atau teripang); Echinoidea (bulu babi); Asteroidea (Bintang laut); Ophiuroidea (Bintang Laut Ular); Crinoidea .

Echinodermata pada umumnya, dengan pengecualian beberapa holothuroidea, makan pada malam hari.

Tripneustes gratilla terlihat lebih menyukai menempel pada daun Thalassi hemprichii dan Syringodium isoetifolium yang kurang luas permukaan daunnya.

Tripneustes gratilla salah satu jenis bulu babi yg menghabiskan separuh hidupnya di padang lamun.