Month: February 2006

Belajar dari Jepang dalam Memanjakan Alam

Posted on Updated on

  

Oleh Ma’ruf Kasim 

Tidak terlalu berlebihan jika kita mau melihat Negara lain dalam upaya perlindungan dan pemeliharaan lingkungannya, terutama dalam menjaga kelangsungan ekosistem dalam suatu Kawasan tertentu.
Jepang adalah salah satu negara maju dengan perkembangan tekologi yang begitu pesat.  Ini lah yang mendorong percepatan perubahan lingkungan begitu cepat. Namun perubahan itu di imbangi dengan pola pemeliharaan lingkungan yang sangat disiplin.  Penataan Lingkungan sebagai suatu Kawasan perlindungan dan konservasi sangat mewarnai pengelolaan kawasan alami di beberapa tempat di seluruh Jepang.  Khususnya daerah Hokkaido yang mempunyai sangat banyak kawasan konservasi alam, begitu terjaga keaslian dan kecantikannya.  Salah satu kawasan di Hokkaido yang oleh ENICEF pada musim panas tahun lalu (2005) di tetapkan sebagai salah satu kawasan di dunia yang sangat terjaga keaslian dan kealamiannya  adalah Shiretoko yang terletak di sebaleh utara Hokkaido.

Image hosting by Photobucket 

Sumber foto : famille.ne.jp

 Kawasan ini merupakan kawasan yang amat sangat alami dengan struktur ekosistem daerah dingin yang asli.  Kita masih dapat menyaksikan begitu cekatannya seekor beruang  menangkap ikan di sepanjang sungai, sementara di sekitar itu pula ratusan ekor deer berjalan dan memakan rumput di padang yang luas serta ribuan burung dan ratusan spesies hewan lain yang tetap eksis.  Ataupun keunikan tingkah laku anjing laut yang penguin yang lucu masih mewarnai kawasan pinggir laut Shiretoko.  Pemandangan alami seperti ini nampaknya memberikan gambaran begitu indah dan kompleksnya sistem ekologis hutan dan pesisir pantai.  Keberadaan tumbuhan sebagai produsen primer dan hewan kecil dan besar sebagai consumer serta beberapa hewan lain sebagai predator memberikan gambaran rantai makanan dan siklus materi yang sangat apik.  Shiretoko hanyalah salah satu dari sekian banyak kawasan perlindungan alam di Jepang yang sampai sekarang masih terjaga, disamping kawasan konservasi Akan, Marsh Kushiro dan banyak lagi.

Image hosting by Photobucket 

Sumber foto : hotel-shiretoko.com


 Lalu bagaimana bisa ekosistem alami itu bisa terjaga?.  Peranan pemerintah yang sangat di dukung oleh masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga sistem ekologis lingkungan begitu kuat.  Mungki karena sebagian besar masyarakat Jepang sadar dari beberapa pengalaman pahit yang melanda negeri ini karena ketidak stabilan lingkungan dan masalah pencemaran yang sangat akut.  Kita masih mengingat kasus minamata yang memakan korban ratusan warga.  Dan beberapa bencana alam yang mamakan ratusan korban.
Bukan berarti Negara Jepang tidak punya masalah dengan perlindungan dan pemeliharaan lingkungannya.  Sebagai Negara yang sangat cepat pekembangan Industrinya, tentunya laju perubahan tata-ruang alam dan kebutuhan lokasi pengembangan sangat tinggi.  Namun ini di barengi dengan kegigihan pemerintah setiap daerah dalam upaya untuk membuat penataan dan pengkajian lingkungan yang begitu rapih dan disiplin.
Upaya perlindungan alam sangat di tunjang oleh sangat banyak factor dan keterlibatan masyarakat serta stakeholder lain yang berkerja secara padu.  Kita tentunya akan sangat merindukan melihat kawasan alami yang masih terjaga.

 Image hosting by Photobucket

sumber foto : bali-bird-park.com

 Tentunya bukan hanya nagara Jepang yang mempunyai kawasan perlindungan dan konservasi alam.  Sebagai kawasan tropis yang sangat amat kaya dengan ribuan  bahkan jutaan hewan dan tumbuhan asli di tambah dengan ratusan hewan endemik yang khas dan tipical untuk tiap daerah di seluruh kawasan Negara tercinta Indonesia,  memberikan potensi yang sangat besar bagi penataan pengembangan kawasan konservasi.

 Image hosting by Photobucket

Sumber foto : wildanimalpark.com.au
Kita memiliki begitu banyak hewan yang masuk dalam kategori hampir punah.  Namun apakan kita mampu memertahankannya untuk tidak punah ?.  Kita memiliki jutaan hektar hutan dan kawasan estetik yang sangat cantik, namun apakah kita bisa menjaga dan mengembangkannya sebagai kawasan konservasi yang bukan hanya diatas kertas?.  Saya sangat percaya kalau kita masih mempunyai dan kalau bisa saya katakan masih amat sangat mencintai dan merindukan keaslian alam kita.  Kasus Timika yang sampai saat ini masih terus berlanjut dengan “perampasan secara halus��? kekayaan alam papua yang kita cintai, pencemaran sungai dan teluk Buyat, di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara dengan kadar sianida yang tinggi, belum tuntas dan masih meninggalkan tanda tanya besar. Kasus banjir bandang di Jawa timur masih meninggalkan duka yang dalam, kekeringan di beberapa kawasan di jawa terus menggoreskan ketakutan warga setempat serta masih banyaknya teguran alam terhadap kita yang kurang bijaksana dalam merawat alam kita.  Alam dan lingkungan kita tidak butuh kemanjaan yang teoritis.  Alam membutuhkan pengertian dan perhatian kita untuk kembali melihat dan menjaganya agar “teguran��? yang menakutkan tidak akan di rasakan oleh anak cucu kita.
 Image hosting by Photobucket

Belum cukupkan “teguran��? itu mengingatkan kita untuk sadar. Mengapa kita tidak belajar dari negara seperti Jepang dan atau beberapa Negara lain yang mau kembali menyapa alam dengan lembut, merawat alam dengan perlakuan rill serta memanjakan alam bukan hanya dengan kata-kata.

 Salam 

 

Advertisements

Kawasan Mangrove dan Konsep Ecotourism

Posted on Updated on

Oleh Ma’ruf Kasim

Kawasan hutan mangrove adalah salah satu kawasan pantai yang sangat unik, karena keberadaan ekosistem ini pada daerah muara sungai atau pada kawasan estuary.  Mangrove hanya menyebar pada kawasan tropis sampai subtropics dengan kekhasan tumbuhan dan hewan yang hidup disana.  Keunikan ini tidak terdapat pada kawasan lain, karena sebagian besar tumbuhan dan hewan yang hidup dan berasosiasi di sana adalah tumbuhan khas perairan estuary yang mampu beradaptasi pada kisaran salinitas yang cukup luas.

sumber foto : tropical-island.de

Kita tidak akan membahas lebih jauh tentang kondisi biologi dan ekologi hutan mangrove, namun kali ini saya mencoba memberikan suatu gambaran singkat tentang konsep Ecotourism (Eko-wisata) pada kawasan mangrove.

 

Eko-wisata dewasa ini menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan lingkungan yang khas yang terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu kawasan kunjungan wisata.  Potensi yang ada adalah suatu konsep pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan konservasi alam.  Konsep ini sangat unik dengan pengembangan dan pelibatan sector management yang terpadu serta seluruh stakeholders’  yang terkait.  Namun pada prinsipnya cukup sederhana dengan pola management lingkungan yang rill. 

Konsep tersebut tidak akan terlepas dari:

1.       Penataan Lingkungan Alami. 

2.       Nilai Pendidikan (Penelitian dan pengembangan).

3.       Partisipasi Masyarakat Local dan Nilai Ekonomi.

4.       Upaya Konservasi dan Pengelolaan Lingkungan.

5.       Minimalisasi Dampak dan Pengaruh Lingkungan (tentunya     dengan beberapa strategi khusus).

sumber foto :courses.washington.edu

Lantas mengapa mangrove sangat potensil bagi pengembangan konsep eko-wisata ini ?.  Jawabannya ada pada kondisi mangrove yang sangat unik serta model wilayah yang dapat di kembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta organisma yang hidup disana.

sumber foto : adventureantigua.com

Untuk mudahnya kita bisa melihat beberapa contoh pengembangan kawasan wisata yang berbasis pada pemeliharaan lingkungan itu sendiri.  Suatu kawasan akan bernilai lebih dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang jika di dalamnya terdapat suatu yang khas dan unik untuk di lihat dan di rasakan. Ini menjadi kunci dari suatu pengembangan kawasan wisata.  Lebih jauh pada kawasan mangrove, dengan estetika wilayah pantai yang mempunyai berjuta tumbuhan dan hewan unik akan menjadi daya tarik tersendiri. Yang lebih penting lagi adalah nilai ekonomis, ekologis dan pendidikan yang sangat besar yang ada di kawasan hutan mangrove. 

Promosi pengembangan hutan mangrove sebagai kawasan ekowisata harus lebih terpusat pada ketiga nilai tadi, tentunya dengan melihat pula keseimbangan ekologis dari seluruh potensi tadi.